Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel CapCapung yang diupload pada tanggal 8 Agustus 2026 dengan judul "Cerdas! Petani ini Olah Limbah Tuna Jadi Pelet Murah Berprotein Tinggi, Ikan Cepat Besar".
Perjalanan usaha dimulai sejak tahun 2009 dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang terbilang terbatas. Berawal dari kolam terpal sederhana di area belakang rumah, usahanya lambat laun berkembang menjadi kolam semi-permanen dengan pemanfaatan kolam tanah. Komoditas yang dipelihara tidak pada lele saja, melainkan meluas ke berbagai jenis seperti bawal,patin, nila. Seiring berjalannya waktu, Budi menyadari bahwa sekitar 60 hingga 80 persen biaya operasional habis hanya untuk urusan pakan. Jika bergantung penuh pada pasokan pakan komersial, ikhtiar menjaga keberlanjutan usaha peternakan menjadi sangat sulit digapai secara konsisten.
Usaha budidaya ikan konsumsi di Indonesia menghadapi tantangan yang makin berat dari hari ke hari. Pembudidaya ikan air tawar banyak mengeluhkan tingginya biaya operasional yang sebagian besar tersedot untuk membeli pakan buatan pabrik. Harga pakan komersial yang terus melonjak membuat margin keuntungan para peternak semakin tipis, bahkan tidak sedikit yang memilih gulung tikar. Menghadapi situasi ini, langkah cerdik diambil oleh Albertus Budi Setiawan, dari UPR Budi Fis Farm yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta ini berhasil meracik pakan mandiri berkualitas tinggi dengan memanfaatkan limbah ikan tuna serta berbagai sisa bahan organik dari industri kecil di sekitarnya.
Perjalanan usaha dimulai sejak tahun 2009 dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang terbilang terbatas. Berawal dari kolam terpal sederhana di area belakang rumah, usahanya lambat laun berkembang menjadi kolam semi-permanen dengan pemanfaatan kolam tanah. Komoditas yang dipelihara tidak pada lele saja, melainkan meluas ke berbagai jenis seperti bawal,patin, nila. Seiring berjalannya waktu, Budi menyadari bahwa sekitar 60 hingga 80 persen biaya operasional habis hanya untuk urusan pakan. Jika bergantung penuh pada pasokan pakan komersial, ikhtiar menjaga keberlanjutan usaha peternakan menjadi sangat sulit digapai secara konsisten.
Kesadaran akan besarnya porsi pengeluaran pakan mendorong Budi untuk meriset dan memproduksi pakan mandiri secara intensif sejak tahun 2019. Proses percobaan ini memakan waktu bertahun-tahun melalui metode otodidak, membaca literasi digital, hingga bertukar pikiran dengan para praktisi perikanan. Keinginan dasarnya adalah memproduksi pelet murah tetapi tidak murahan, dengan kualitas yang mendekati hasil pabrikan. Langkah awal memberikan bahan mentah secara langsung kepada ternak ternyata menimbulkan masalah besar. Bahan mentah yang tidak diolah cepat merusak kondisi air sumur dan menyebabkan kegagalan pada sistem kolam. Dari pengalaman tersebut, Budi belajar bahwa bahan sisa organik wajib diproses menjadi bentuk pelet apung agar aman bagi ekosistem air.
Keberhasilan pakan buatan Budi Fis Farm ada pada pemanfaatan limbah ikan tuna yang diperoleh secara rutin dari pemasok lokal. Limbah olahan tersebut memiliki kandungan protein alami yang tinggi sehingga sangat bagus untuk memacu pertumbuhan. Penggunaan bahan baku sisa ini secara efektif sanggup menekan kebutuhan tepung komersial yang harganya tergolong mahal di pasaran. Bahan dari olahan laut ini dikeringkan di bawah terik matahari sebelum digiling hingga halus. Uniknya, bagian tulang yang sudah mengering sempurna dapat dihancurkan dengan mudah menggunakan tangan, memperlihatkan bahwa struktur kalsium dan nutrisinya sangat mudah dicerna oleh pencernaan air.
Selain sumber protein dari laut, Budi memformulasikan bahan baku pendukung yang berasal dari limbah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekitar. Bahan-bahan tersebut meliputi sisa tempe, limbah getuk olahan ketela, ampas gandum, serta bekatul dari penggilingan padi dan jagung. Semua sisa bahan yang dikumpulkan setiap hari langsung diolah pada hari yang sama agar tidak membusuk. Proses pembuatannya dimulai dari pengeringan, dilanjutkan penggilingan dua kali yaitu giling kasar dan giling halus, lalu ditimbang secara presisi sesuai kadar protein yang ditargetkan. Campuran tepung tersebut kemudian diadon bersama air dan dicetak menggunakan mesin pelet apung yang sengaja didatangkan dari Surabaya.
Keberhasilan pakan buatan Budi Fis Farm ada pada pemanfaatan limbah ikan tuna yang diperoleh secara rutin dari pemasok lokal. Limbah olahan tersebut memiliki kandungan protein alami yang tinggi sehingga sangat bagus untuk memacu pertumbuhan. Penggunaan bahan baku sisa ini secara efektif sanggup menekan kebutuhan tepung komersial yang harganya tergolong mahal di pasaran. Bahan dari olahan laut ini dikeringkan di bawah terik matahari sebelum digiling hingga halus. Uniknya, bagian tulang yang sudah mengering sempurna dapat dihancurkan dengan mudah menggunakan tangan, memperlihatkan bahwa struktur kalsium dan nutrisinya sangat mudah dicerna oleh pencernaan air.
Selain sumber protein dari laut, Budi memformulasikan bahan baku pendukung yang berasal dari limbah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekitar. Bahan-bahan tersebut meliputi sisa tempe, limbah getuk olahan ketela, ampas gandum, serta bekatul dari penggilingan padi dan jagung. Semua sisa bahan yang dikumpulkan setiap hari langsung diolah pada hari yang sama agar tidak membusuk. Proses pembuatannya dimulai dari pengeringan, dilanjutkan penggilingan dua kali yaitu giling kasar dan giling halus, lalu ditimbang secara presisi sesuai kadar protein yang ditargetkan. Campuran tepung tersebut kemudian diadon bersama air dan dicetak menggunakan mesin pelet apung yang sengaja didatangkan dari Surabaya.
Hasil penerapan pelet limbah tuna ini terbukti memberi dampak yang luar biasa terhadap pertumbuhan bibit maupun ternak dewasa. Pada uji coba yang dilakukan bersama lembaga penelitian BRIN pada komoditas patin, perkembangan bobot menunjukkan grafik yang sangat signifikan. Patin berbobot 100 gram pada pertengahan Mei dapat tumbuh mencapai bobot 300 hingga 350 gram pada awal Juli. Kenaikan bobot lebih dari 100 gram per bulan ini membuktikan bahwa pakan buatan sendiri tidak kalah bersaing dengan pakan komersial. Pakan pelet ini juga aman diberikan kepada larva yang baru berumur lima hari tanpa menimbulkan gangguan pencernaan maupun pencemaran air.
Pengolahan pakan menjadi bentuk pelet apung juga sangat menentukan kualitas akhir daging yang dipanen. Bahan pakan mentah yang diberikan langsung tanpa diolah biasa membuat bentuk tubuh lele menjadi bengkok dan dagingnya terasa basah saat digoreng. Sebaliknya, pemberian pelet apung memicu bentuk tubuh menjadi lurus sempurna, tekstur daging lebih padat, gurih, serta cepat kering ketika digoreng. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa Budi terus konsisten mengolah setiap bahan menjadi pelet apung sebelum diberikan kepada puluhan ribu ekor di kolam miliknya.
Penghematan biaya yang dirasakan dari produksi pakan mandiri ini terbilang lumayan besar. Budi mampu menghemat pengeluaran hingga selisih Rp. 4.000 per kilogram jika dibandingkan dengan pakan buatan pabrik. Selisih biaya yang cukup besar ini menjadi nafas tambahan bagi kelangsungan usaha serta menjaga kesejahteraan para pekerja yang menggantungkan hidup di tempat usahanya. Dalam sehari, Budi Fis Farm mampu memproduksi sekitar 200 hingga 400 kilogram pelet apung untuk memenuhi kebutuhan harian kolam patin, nila, dan lele.
Di samping pemenuhan gizi dari pakan, Budi memberikan perhatian khusus pada pengelolaan air kolam untuk mencegah timbulnya aroma bau tanah pada daging. Bau tanah pada komoditas konsumsi sebenarnya bukan dipicu oleh jenis kolam tanah maupun kolam beton, melainkan akumulasi plankton hijau yang kaya protein nabati. Untuk mengatasi masalah tersebut, Budi mengondisikan air kolam agar berwarna cokelat, bening, atau kemerahan. Air kolam yang terkontrol menghasilkan daging segar, tebal, dan bebas dari aroma menyengat, sehingga produk pasokannya sangat disukai oleh para pelanggan katering dan rumah makan di wilayah Sleman.
Pemberian pakan harian di Budi Fis Farm dilakukan dengan pendekatan pengamatan langsung terhadap respons harian, bukan sekadar mematuhi rumus persentase baku. Pakan diberikan sesuai tingkat nafsu makan tanpa ada sisa yang terbuang di dasar kolam. Menurut patokan perhitungan yang digunakannya, rasio konversi pakan untuk lele berada pada tingkat 1 kilogram pelet menghasilkan 1 kilogram daging. Sementara untuk patin membutuhkan sekitar 1,2 kilogram pelet, dan nila memerlukan 1,4 hingga 1,7 kilogram pelet untuk menghasilkan 1 kilogram daging berkualitas siap konsumsi.
Pemberian pakan harian di Budi Fis Farm dilakukan dengan pendekatan pengamatan langsung terhadap respons harian, bukan sekadar mematuhi rumus persentase baku. Pakan diberikan sesuai tingkat nafsu makan tanpa ada sisa yang terbuang di dasar kolam. Menurut patokan perhitungan yang digunakannya, rasio konversi pakan untuk lele berada pada tingkat 1 kilogram pelet menghasilkan 1 kilogram daging. Sementara untuk patin membutuhkan sekitar 1,2 kilogram pelet, dan nila memerlukan 1,4 hingga 1,7 kilogram pelet untuk menghasilkan 1 kilogram daging berkualitas siap konsumsi.
Pengalaman panjangnya membuktikan bahwa tantangan ekonomi dan kenaikan harga bahan baku dapat diatasi melalui inovasi dan kerja keras. Keberhasilan mengolah limbah ikan tuna menjadi pelet berkualitas memberi harapan bagi kemajuan sektor perikanan darat. Selain mampu menjaga keberlanjutan usaha budidaya, pakan mandiri ini turut membantu membangkitkan perekonomian lingkungan sekitar melalui pemanfaatan sisa olahan UMKM. Edukasi dan pemanfaatan bahan lokal semacam ini menjadi kunci dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang mandiri serta berkelanjutan.
Keberhasilan pengelolaan usaha perikanan skala rumah tangga ini memberikan contoh nyata bahwa keterbatasan modal dapat diimbangi dengan kejelian melihat peluang. Langkah memanfaatkan sisa bahan organik lokal bukan hanya menyelesaikan persoalan pencemaran lingkungan, melainkan juga membukakan jalan bagi kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan. Melalui semangat saling berbagi ilmu, Budi Fis Farm terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan berdiskusi demi kemajuan dunia peternakan air tawar secara luas.
Keberhasilan pengelolaan usaha perikanan skala rumah tangga ini memberikan contoh nyata bahwa keterbatasan modal dapat diimbangi dengan kejelian melihat peluang. Langkah memanfaatkan sisa bahan organik lokal bukan hanya menyelesaikan persoalan pencemaran lingkungan, melainkan juga membukakan jalan bagi kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan. Melalui semangat saling berbagi ilmu, Budi Fis Farm terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan berdiskusi demi kemajuan dunia peternakan air tawar secara luas.
Semoga infonya bermanfaat.
Kuningan Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pesan akan di moderasi dulu