Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel Sosok Ahli yang diupload pada tanggal 23 Agustus 2026 dengan judul "#UntoldStory Bukan Impor! Merek Sunpride Ternyata Produk Lokal Dari Lampung".
Banyak yang mengira Pisang Sunpride adalah merek buah impor dari luar negeri, namun faktanya, merek ini adalah hasil karya anak bangsa yang berasal dari perkebunan di Lampung Timur. Perkebunan tersebut membentang sangat luas, mencapai ribuan hektar, dan menjadi bagian dari bisnis besar keluarga Angkosubroto. Sosok Husodo Angkosubroto merupakan generasi kedua yang memimpin pengembangan bisnis Gunung Sewu tersebut.
Perjalanan panjang bisnis buah ini dimulai jauh sebelum merek Sunpride dikenal masyarakat luas. Pada 1979, mereka masuk ke industri nanas dengan mendirikan Great Giant Pineapple atau GGP di Lampung. Langkah besar berlanjut pada 1992 ketika Gunung Sewu menjalin kemitraan dengan Del Monte Produce, perusahaan buah asal Filipina, untuk mendirikan Nusantara Tropical Farm atau NTF. Namun, pada 1996, Gunung Sewu sepenuhnya mengambil alih perusahaan tersebut, sehingga perkebunannya terus berkembang pesat hingga sekarang.
Baca juga : Kebun Semangka di Pesisir Barat Lampung
Pada tahun 2015, NTF tercatat mengelola lahan seluas 3.757 hektar di Lampung Timur, dengan 1.754 hektar di antaranya dikhususkan untuk tanaman pisang. Salah satu komoditas pisang yang menjadi andalan Sunpride adalah jenis Cavendish. Pisang ini menjadi pilar bisnis yang menyumbang lebih dari 67 persen penjualan Sewu Segar Nusantara atau SSN pada tahun yang sama. Perusahaan SSN sendiri didirikan pada 1995 dengan tugas penting yaitu membawa hasil kebun langsung menuju pasar konsumen.
Strategi yang diterapkan oleh perusahaan ini terbilang berani dimana buah yang semula dianggap sebagai komoditas biasa diubah menjadi produk bermerek. Pisang tidak lagi dijual begitu saja, melainkan melalui proses pengemasan, standarisasi kualitas, dan penentuan posisi pasar yang matang. Inilah yang membuat Sunpride dikenal sebagai contoh sukses transformasi dari komoditas menjadi merek dagang yang kuat di Indonesia. Kepercayaan masyarakat terhadap kualitas produk ini membuat banyak orang menyangka buahnya berasal dari luar negeri, padahal semua ditanam dan diproses secara lokal.
Bisnis buah ini kini terus berinovasi dan tidak berhenti pada penjualan buah segar. Sunpride merambah ke produk olahan, seperti jus buah dalam kemasan kaleng. Distribusinya pun diperluas dengan mendekatkan buah segar kepada masyarakat melalui gerobak keliling. Hal ini memperjelas upaya perusahaan untuk memperluas jangkauan produk agar lebih dekat dengan konsumen sehari-hari. Pada 2016, ekspansi dilakukan dengan pembukaan 500 hektar lahan baru di Blitar, Jawa Timur, untuk menambah komoditas seperti jambu kristal dan nanas honi.
Seluruh operasional bisnis ini berada di bawah naungan Great Giant Foods atau GGF. Sistem bisnis di sini dirancang secara terintegrasi, mulai dari perkebunan, pengolahan buah, hingga peternakan melalui Great Giant Livestock. Pemanfaatan limbah menjadi bagian penting dari ekosistem ini. Sisa pengolahan nanas digunakan untuk pakan ternak, kemudian limbah ternak diolah menjadi pupuk yang kembali disalurkan ke perkebunan. Bahkan, batang nanas memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti bisnis enzim bromelain yang diambil dari batang nanas tersebut. Limbah pengolahan lainnya juga diubah menjadi sumber energi biogas.
Keberhasilan bisnis keluarga Angkosubroto menunjukkan penguasaan rantai pasok yang lengkap dari hulu sampai hilir. Pada 2014, meluncurkan Rejuve sebagai pionir minuman cold-pressed juice di Indonesia. Produk ini mengolah buah dan sayuran menjadi minuman premium tanpa pengawet dengan bantuan teknologi high pressure processing. Langkah ini memastikan kualitas produk terjaga dengan baik untuk konsumen. Sunpride, GGF, dan Rejuve adalah bukti bagaimana pengelolaan bisnis yang terpadu dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi lokal sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk berkualitas tinggi. Mereka mengubah cara pandang masyarakat terhadap produk lokal, dari yang tadinya dianggap remeh kini memiliki posisi tinggi di pasar modern.
Semoga infonya bermanfaat.
Kuningan Agustus 2026