Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini

Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini
Admin mungkin menerima komisi dari link tiktok diatas

Jumat, 07 Agustus 2026

Inovasi briket daun kering sebagai solusi energi murah dan ramah lingkungan

Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel Tunas Hijau ID yang diupload pada tanggal 20 Oktober 2024 dengan judul " Langkah Demi Langkah Membuat Briket Daun Kering yang Mudah & Murah". 

Di tengah perubahan iklim dan penumpukan sampah organik di berbagai kota besar, solusi kreatif pengolahan limbah menjadi bahan bakar alternatif terus bermunculan. Salah satu inovasi menarik dari seorang pelajar sekolah dasar asal Surabaya, Bagas Pramudityo dari SDN Nginden 1. Melalui proyek sosial dan lingkungan bertajuk pengolahan briket sampah organik, Bagas berhasil mengolah limbah dedaunan yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi briket daun kering yang bernilai ekonomis tinggi serta bermanfaat bagi masyarakat luas. 

Masalah penumpukan dedaunan di lingkungan sekitar sekolah maupun fasilitas umum menjadi alasan awal berjalannya proyek ini. Dedaunan yang berguguran di halaman sekolah, kebun hingga taman kota biasanya hanya disapu, dikumpulkan, lalu dibakar atau dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir. Pembakaran sampah secara terbuka justru menghasilkan asap yang mengganggu pernapasan dan menambah emisi karbon di udara juga hanya membuang potensi material tersebut. Dengan mengolahnya menjadi briket, sampah organik yang menumpuk diubah menjadi produk bernilai ekonomi.

Inovasi pengolahan limbah menjadi briket daun kering menjadi jawaban. Keberadaan briket ramah lingkungan ini memberikan jalan keluar yang praktis untuk mengurangi volume sampah organik di perkotaan. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, briket daun kering juga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan yang ekonomis. Bahan bakar alternatif ini dapat membantu mengatasi kelangkaan gas elpiji maupun minyak tanah yang kadangkala sulit didapatkan oleh masyarakat, sekaligus menekan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan memasak. 

Proses pembuatan briket daun kering ini dirancang secara sederhana agar mudah dipraktekkan oleh siapa saja menggunakan peralatan rumah tangga yang terjangkau. Langkah awal dimulai dari tahap pengumpulan bahan baku berupa daun kering yang terkumpul di area halaman sekolah serta Taman Intan Surabaya. Dalam mengumpulkan bahan baku tersebut, terdapat dukungan penuh dari lingkungan sekolah hingga petugas kebersihan taman yang rutin membantu pengumpulan pada hari Sabtu dan Minggu. Kerja sama ini membuktikan bahwa gerakan kepedulian lingkungan dapat berjalan dengan baik ketika melibatkan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat sekitar. 

Selain memanfaatkan dedaunan gugur, pembuatan briket daun kering ini juga memanfaatkan limbah sisa dari sektor usaha lokal. Bahan tambahan yang digunakan adalah arang sisa pembakaran dari pabrik. Memanfaatkan arang sisa pembakaran industri kecil ini membuat pengolahan limbah menjadi semakin optimal karena menggabungkan dua jenis limbah berbeda menjadi satu produk bermanfaat. Penggunaan arang kayu bertujuan untuk meningkatkan daya bakar briket agar energi panas yang dihasilkan lebih tahan lama dan stabil saat digunakan untuk memasak. 

Setelah seluruh bahan baku terkumpul di rumah, proses pengolahan dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis dengan bantuan anggota keluarga. Tahap pertama dimulai dengan mencacah dedaunan kering terlebih dahulu. Pencacahan ini bertujuan untuk memperkecil ukuran daun sehingga memudahkan proses penghalusan dengan blender berkapasitas kecil. Sementara itu, arang kayu sisa pembakaran ditumbuk hingga halus agar teksturnya seragam. Kedua bahan yang telah dihaluskan tersebut kemudian dicampur hingga merata dengan perbandingan tertentu agar kualitas pembakaran tetap terjaga. 

Agar adonan briket daun kering dapat menyatu dengan kokoh dan tidak mudah hancur saat dikeringkan, digunakan bahan perekat alami berupa adonan tepung tapioka atau tepung kanji. Tepung tapioka dilarutkan dengan air hangat lalu dicampurkan ke dalam adonan campuran daun dan arang yang sudah halus. Seluruh bahan diaduk hingga membentuk adonan kalis yang mudah dibentuk. Setelah adonan mencapai tekstur yang pas, langkah berikutnya adalah mencetak adonan menggunakan cetakan sederhana, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering dan siap digunakan sebagai bahan bakar pengganti. 

Perjalanan menjalankan proyek pengolahan limbah ini tentu tidak lepas dari berbagai hambatan dan kendala teknis di lapangan. Keterbatasan alat seperti pemanfaatan blender sederhana berkapasitas kecil menuntut kesabaran ekstra dalam meremukkan bahan dalam jumlah banyak. Rasa gatal pada kulit serta resiko tertusuk tulang daun yang tajam saat proses pencacahan manual juga menjadi tantangan tersendiri yang perlu dihadapi. Kendala ini disikapi dengan terus meningkatkan kehati-hatian selama bekerja serta menggunakan sarung tangan pelindung agar proses produksi tetap aman dan lancar. 

Tantangan yang sempat memunculkan rasa sedih muncul pada masa awal uji coba, ketika briket daun kering hasil buatan awal ternyata belum bisa menyala dengan sempurna. Percobaan berulang kali terus dilakukan dengan menyesuaikan komposisi campuran antara daun kering, arang kayu, dan perekat tapioka hingga akhirnya menemukan formula yang tepat. Kegagalan awal tersebut terbayar tuntas ketika briket yang dibuat berhasil menyala dengan bara yang stabil dan tahan lama. Keberhasilan ini dirayakan dengan memanfaatkan briket tersebut untuk memanggang jagung dan sosis. 

Dukungan penuh dari keluarga, guru, dan teman-teman sekitar menjadi pendorong semangat untuk terus mengembangkan pekerjaan ini. Lingkungan sosial memberikan respon yang sangat positif setelah melihat secara langsung keberhasilan briket daun kering dalam menghasilkan bara api yang stabil tanpa menimbulkan bau menyengat. Pengalaman menyenangkan saat menikmati makanan hasil panggangan briket ramah lingkungan ini semakin memperkuat keyakinan bahwa limbah sekitar memiliki potensi besar jika diolah dengan ketekunan dan kepedulian. 

Hingga saat ini, pencapaian pengolahan limbah organik ini mencatatkan angka yang sangat mengesankan. Sebanyak lebih dari 1.500 kilogram daun kering berhasil dikumpulkan dari berbagai lokasi. Dari jumlah pengumpulan tersebut, puluhan kilogram dedaunan telah berhasil diolah menjadi ratusan buah briket daun kering yang siap pakai. Selain fokus pada produksi, kegiatan sosialisasi juga gencar dilakukan kepada lebih dari seribu lima ratus orang guna menyebarkan kesadaran pentingnya memanfaatkan sampah organik menjadi produk bernilai untuk kehidupan sehari-hari. 

Pengembangan briket daun kering ini membuka peluang besar bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan. Jika dikelola dalam skala industri rumah tangga, produksi briket dapat menjadi usaha sampingan yang menghasilkan pendapatan tambahan bagi warga. Ke depannya, terdapat harapan besar agar ada pengusaha atau investor yang bersedia memberikan kemudahan akses peralatan yang lebih modern. Bantuan peralatan produksi yang lebih memadai akan membantu meningkatkan kapasitas olah sampah organik dalam jumlah yang jauh lebih besar. 

Melalui promosi aktif di media sosial seperti akun Instagramnya briket daun kering ini mulai diperkenalkan secara luas kepada publik sebagai solusi ramah lingkungan untuk kegiatan memanggang makanan sehari-hari. Inovasi sederhana dari Surabaya ini memberikan contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah kecil di sekitar tempat tinggal. Dengan mengolah dedaunan gugur menjadi briket daun kering, masyarakat dapat terus berpartisipasi menjaga kebersihan alam sekaligus menghasilkan kemandirian energi alternatif yang berguna kedepannya. 

Semoga infonya bermanfaat. 



Kuningan Agustus 2026

Blogger Kuningan

Blogger Kuningan

4741

Download E-book Inspirasi

Dengan memasukkan email rekan pembaca untuk mendapatkan link download E-book Inspirasi PDF secara gratis.

Dapatkan E-book Sekarang