Perjalanan inovasi ini dipelopori oleh Desmond Chow seorang mantan akademisi yang memilih terjun sepenuhnya ke dunia agribisnis sejak beberapa tahun lalu. Fokus dari peternakan ini adalah memecahkan masalah produktivitas yang kerap dihadapi oleh para petani konvensional. Melalui pendekatan ilmiah, kawasan ini disulap menjadi pusat budidaya crawfish yang tidak hanya mandiri secara ekosistem, tetapi juga mampu mendatangkan keuntungan finansial yang berlipat ganda bagi masyarakat sekitar.
Kunci keberhasilan dari peternakan ini ada pada rancangan ulang lahan sawah tradisional. Lahan yang dulunya mendatar kini dimodifikasi dengan membuat parit-parit yang lebih dalam. Parit ini berfungsi untuk menerapkan sistem budidaya terpadu atau multi-cropping yang melibatkan tiga unsur, yaitu lobster air tawar, ikan dan tanaman sayuran seperti kangkung serta selada. Ketiga komponen ini hidup bersama dan membentuk sebuah lingkaran ekosistem yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa menyisakan limbah berbahaya.
Di dalam kolam terpadu ini, ikan dan lobster air tawar hidup di lapisan air yang berbeda sambil menghasilkan kotoran organik. Kotoran tersebut kemudian naik ke permukaan dan diserap oleh akar sayuran sebagai pupuk alami yang kaya nutrisi. Sebaliknya, tanaman sayuran akan menyaring zat amonia yang ada di dalam air, sehingga kondisi air tetap bersih, jernih, dan kaya oksigen. Pola perputaran ini membuat lingkungan kolam selalu sehat bagi pertumbuhan biota di dalamnya. Dari sisi ekonomi, sistem terpadu ini mampu menaikkan pendapatan tahunan secara drastis dibandingkan dengan hanya menanam padi saja.
Spesies lobster air tawar yang dipilih untuk dikembangkan di peternakan Kamboja ini adalah Cherax quadricarinatus atau yang dikenal sebagai jenis Red Claw asal Australia. Jenis ini dipilih karena memiliki keunggulan berupa persentase daging yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan spesies lainnya. Untuk memastikan kualitas komoditas tetap unggul, proses seleksi induk tidak lagi dilakukan secara acak atau sekadar melihat ukuran fisik luar, melainkan sudah melibatkan analisis genetika DNA yang dikendalikan langsung dari laboratorium pusat.
Melalui pemetaan genetika tersebut, peternakan dapat menghasilkan bibit lobster air tawar yang memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit serta adaptif terhadap perubahan suhu ekstrem. Keunggulan lainnya ada pada teknologi ruang pembenihan hatchery. Jika pada metode lama telur dipisahkan dari induknya secara manual yang beresiko merusak janin, peternakan ini menggunakan mesin otomatis sensitif. Teknologi ini berhasil menekan angka kematian dini dan mendongkrak tingkat keberhasilan hidup benih lobster air tawar hingga mencapai angka 80 persen.
Tantangan besar dalam budidaya lobster air tawar adalah ketersediaan pakan komersial yang bersertifikat di pasaran. Banyak peternak tradisional terpaksa menggunakan sisa makanan pasar atau bahan organik kurang higienis yang bisa menurunkan kualitas daging. Demi menjaga standar kebersihan, team peneliti menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk meracik formula pakan khusus. Pakan buatan ini terdiri dari dua belas bahan pilihan yang disukai oleh lobster air tawar serta mendukung pertumbuhan fisik yang lebih cepat dan sehat.
Faktor geografis Kamboja yang beriklim tropis juga memberikan keuntungan besar karena proses pemanenan dapat dilakukan hingga tiga kali dalam setahun tanpa terputus oleh musim dingin. Meski demikian, operasional peternakan ini tidak lepas dari hambatan non-teknis selama masa perintisannya. Pengelola sempat menghadapi masalah sosial seperti pencurian hasil panen oleh oknum pekerja, tindakan sabotase kolam, hingga gangguan keamanan dari pihak luar. Namun, dengan pengawasan ketat dan penerapan sistem manajemen yang disiplin, peternakan berteknologi tinggi ini tetap kokoh beroperasi demi mendukung ketahanan pangan wilayah sekitar.
Semoga infonya bermanfaat.
Kuningan Juni 2026