Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel MAS BANS yang diupload pada tanggal 22 Agustus 2026 dengan judul "MEMBUAT SOLAR DAN BENSIN DARI SAMPAH DISINI".
Terlihat dalam penjelasan video proses pengolahan berawal dari pengumpulan sampah plastik dari lingkungan sekitar hingga kiriman warga di wilayah pemukiman. Sampah yang terkumpul tidak bisa langsung dimasukkan ke dalam mesin reaktor, melainkan perlu melalui tahap pemilahan terlebih dahulu. Jenis plastik yang paling cocok diolah menjadi bahan bakar meliputi kantong kresek, sedotan serta kemasan berbahan PE, PP, PS, LDPE, hingga HDPE. Sementara itu, kemasan bernilai jual tinggi seperti botol bening PET lebih disarankan langsung dijual ke pengepul cacahan plastik. Di sisi lain, jenis kemasan yang mengandung lapisan aluminium foil perlu dipisahkan karena kandungan logam di dalamnya dapat menimbulkan efek racun bagi pengolah serta memperbanyak residu.
Setelah dipilah, sampah plastik yang basah dan kotor dikeringkan di bawah sinar matahari selama dua hingga tiga hari. Pengeringan ini penting sebab kadar air berlebih dapat menurunkan suhu reaktor serta mengganggu efisiensi pengolahan bahan bakar. Sampah yang sudah kering kemudian dipadatkan menjadi gulungan atau kantong-kantong kecil. Pemadatan bertujuan memudahkan pekerja saat memasukkan bahan baku ke dalam lubang mesin secara teratur. Dengan persiapan bahan baku yang teratur, proses pemanasan di dalam reaktor berjalan lebih optimal tanpa hambatan penumpukan bahan baku di pintu masuk.
Baca juga : mengenal petasol, bahan bakar dari plastik yang bisa gantikan solar
Prosedur pengolahan minyak ini memanfaatkan teknik pirolisis, yaitu proses pemanasan bahan padat tanpa kontak langsung dengan oksigen serta tanpa api yang menyentuh plastik secara langsung. Reaktor pemanas dipanaskan dari luar menggunakan kayu bakar atau memanfaatkan sebagian hasil solar olahan sebelumnya. Pada tahap awal, suhu mesin dijaga stabil pada kisaran 100 derajat Celsius saat dimasukkan sampah plastik seberat 50 hingga 60 kilogram secara bertahap. Ketika suhu turun ke kisaran 80 derajat Celsius akibat masuknya bahan baku baru, pintu reaktor ditutup rapat hingga suhu naik kembali ke angka 100 derajat Celsius. Pengendalian suhu ini ada pada konsistensi pekerja agar plastik mencair secara merata dan tidak mengalami penggumpalan keras di dasar reaktor.
Saat suhu mesin terus dinaikkan, plastik padat yang telah mencair mulai mendidih lalu menghasilkan uap panas. Uap cair tersebut kemudian dialirkan menuju tabung kondensasi untuk didinginkan hingga kembali menjadi bentuk cair. Di dalam mesin khusus ini, pemisahan jenis bahan bakar terjadi secara otomatis berdasarkan berat jenis molekulnya. Komponen dengan berat jenis lebih ringan mengalir menjadi bensin, sedangkan komponen yang lebih berat terkondensasi menjadi solar. Karena sistem pemisahan berlangsung tertutup, tidak ada uap berbahaya yang terbuang sia-sia ke udara bebas selama proses penyulingan berlangsung.
Hasil minyak mentah cair dari proses penyulingan awal belum bisa langsung dituangkan ke dalam tangki kendaraan bermotor. Cairan tersebut memerlukan tahap pemurnian melalui proses penyaringan sebanyak enam hingga tujuh kali. Penyaringan awal menggunakan busa filter untuk menangkap partikel kasar, diikuti penyaringan halus menggunakan kertas saring khusus serta penambahan aditif katalis. Penyaringan bertahap menghilangkan endapan lumpur hitam serta menjernihkan warna minyak dari cokelat gelap hingga menjadi kuning bening menyerupai cairan energi komersial. Hasil penyaringan akhir menghasilkan cairan solar bersih beraroma khas yang siap dimanfaatkan.
Berdasarkan pengujian laboratorium bersama lembaga riset resmi, cairan solar olahan dari sampah plastik ini memiliki kualitas yang sangat baik. Nilai angka cetane hasil olahan tercatat mencapai 54,2, angka yang bahkan berada di atas standar solar bersubsidi maupun solar nonsubsidi di pasaran. Selain itu, bahan bakar ini telah melalui uji jalan kendaraan sejauh 50.000 kilometer. Hasil pembongkaran mesin kendaraan uji di laboratorium termodinamika menunjukkan bahwa ruang bakar tetap bersih tanpa penumpukan kerak jelaga yang merusak komponen dalam mesin. Mobil bermesin diesel yang menggunakan bahan bakar olahan ini terbukti dapat beroperasi lancar setiap hari tanpa kendala mekanis.
Dari segi efisiensi hasil, kuantitas minyak yang didapatkan sangat bergantung pada kebersihan serta jenis sampah plastik yang digunakan. Jika bahan baku yang diolah berupa plastik bersih dan kering, rasio hasil yang diperoleh dapat mendekati 1 banding 1, artinya 50 kilogram plastik menghasilkan 50 liter bahan bakar cair. Namun, apabila bahan baku berasal dari sampah campuran pasar atau TPS 3R yang lembap, dari 50 kilogram limbah rata-rata diperoleh 35 hingga 45 liter cairan. Cairan tersebut terbagi menjadi solar, bensin, serta sedikit endapan air hasil kelembapan bahan baku.
Sistem pengolahan ini juga menerapkan prinsip ramah lingkungan tanpa menyisakan limbah berbahaya baru. Gas buang dari pembakaran kayu dialirkan melalui cerobong pembuangan khusus yang dilengkapi penyaring uap air serta diuji emisinya secara berkala. Residu padat berupa karbon plastik hitam yang tersisa di dalam reaktor dikuras seminggu sekali dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri atau diekspor. Sementara itu, arang sisa pembakaran kayu dijual ke pasar dan abu halus dimanfaatkan sebagai campuran pupuk tanaman. Seluruh bagian dari proses ini memiliki nilai ekonomi tanpa mencemari pemukiman sekitar.
Keunggulan pendekatan pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar cair ini ada pada keberlanjutan pemanfaatannya. Berbeda dari pembuatan kerajinan tangan, paving block, atau perabotan berbahan plastik yang pasarnya terbatas dan beresiko menjadi limbah kembali saat rusak, kebutuhan akan bahan bakar bergerak secara konsisten setiap hari. Setiap rumah tangga senantiasa menghasilkan limbah kantong kresek, sehingga pasokan bahan baku tidak pernah terputus. Dengan mengubah limbah lingkungan menjadi energi solar yang bermanfaat, masyarakat tidak hanya mengatasi permasalahan penumpukan sampah di tempat pembuangan, tetapi juga memperoleh kemandirian energi yang hemat serta berkelanjutan.
Prosedur pengolahan minyak ini memanfaatkan teknik pirolisis, yaitu proses pemanasan bahan padat tanpa kontak langsung dengan oksigen serta tanpa api yang menyentuh plastik secara langsung. Reaktor pemanas dipanaskan dari luar menggunakan kayu bakar atau memanfaatkan sebagian hasil solar olahan sebelumnya. Pada tahap awal, suhu mesin dijaga stabil pada kisaran 100 derajat Celsius saat dimasukkan sampah plastik seberat 50 hingga 60 kilogram secara bertahap. Ketika suhu turun ke kisaran 80 derajat Celsius akibat masuknya bahan baku baru, pintu reaktor ditutup rapat hingga suhu naik kembali ke angka 100 derajat Celsius. Pengendalian suhu ini ada pada konsistensi pekerja agar plastik mencair secara merata dan tidak mengalami penggumpalan keras di dasar reaktor.
Saat suhu mesin terus dinaikkan, plastik padat yang telah mencair mulai mendidih lalu menghasilkan uap panas. Uap cair tersebut kemudian dialirkan menuju tabung kondensasi untuk didinginkan hingga kembali menjadi bentuk cair. Di dalam mesin khusus ini, pemisahan jenis bahan bakar terjadi secara otomatis berdasarkan berat jenis molekulnya. Komponen dengan berat jenis lebih ringan mengalir menjadi bensin, sedangkan komponen yang lebih berat terkondensasi menjadi solar. Karena sistem pemisahan berlangsung tertutup, tidak ada uap berbahaya yang terbuang sia-sia ke udara bebas selama proses penyulingan berlangsung.
Hasil minyak mentah cair dari proses penyulingan awal belum bisa langsung dituangkan ke dalam tangki kendaraan bermotor. Cairan tersebut memerlukan tahap pemurnian melalui proses penyaringan sebanyak enam hingga tujuh kali. Penyaringan awal menggunakan busa filter untuk menangkap partikel kasar, diikuti penyaringan halus menggunakan kertas saring khusus serta penambahan aditif katalis. Penyaringan bertahap menghilangkan endapan lumpur hitam serta menjernihkan warna minyak dari cokelat gelap hingga menjadi kuning bening menyerupai cairan energi komersial. Hasil penyaringan akhir menghasilkan cairan solar bersih beraroma khas yang siap dimanfaatkan.
Berdasarkan pengujian laboratorium bersama lembaga riset resmi, cairan solar olahan dari sampah plastik ini memiliki kualitas yang sangat baik. Nilai angka cetane hasil olahan tercatat mencapai 54,2, angka yang bahkan berada di atas standar solar bersubsidi maupun solar nonsubsidi di pasaran. Selain itu, bahan bakar ini telah melalui uji jalan kendaraan sejauh 50.000 kilometer. Hasil pembongkaran mesin kendaraan uji di laboratorium termodinamika menunjukkan bahwa ruang bakar tetap bersih tanpa penumpukan kerak jelaga yang merusak komponen dalam mesin. Mobil bermesin diesel yang menggunakan bahan bakar olahan ini terbukti dapat beroperasi lancar setiap hari tanpa kendala mekanis.
Dari segi efisiensi hasil, kuantitas minyak yang didapatkan sangat bergantung pada kebersihan serta jenis sampah plastik yang digunakan. Jika bahan baku yang diolah berupa plastik bersih dan kering, rasio hasil yang diperoleh dapat mendekati 1 banding 1, artinya 50 kilogram plastik menghasilkan 50 liter bahan bakar cair. Namun, apabila bahan baku berasal dari sampah campuran pasar atau TPS 3R yang lembap, dari 50 kilogram limbah rata-rata diperoleh 35 hingga 45 liter cairan. Cairan tersebut terbagi menjadi solar, bensin, serta sedikit endapan air hasil kelembapan bahan baku.
Sistem pengolahan ini juga menerapkan prinsip ramah lingkungan tanpa menyisakan limbah berbahaya baru. Gas buang dari pembakaran kayu dialirkan melalui cerobong pembuangan khusus yang dilengkapi penyaring uap air serta diuji emisinya secara berkala. Residu padat berupa karbon plastik hitam yang tersisa di dalam reaktor dikuras seminggu sekali dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri atau diekspor. Sementara itu, arang sisa pembakaran kayu dijual ke pasar dan abu halus dimanfaatkan sebagai campuran pupuk tanaman. Seluruh bagian dari proses ini memiliki nilai ekonomi tanpa mencemari pemukiman sekitar.
Keunggulan pendekatan pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar cair ini ada pada keberlanjutan pemanfaatannya. Berbeda dari pembuatan kerajinan tangan, paving block, atau perabotan berbahan plastik yang pasarnya terbatas dan beresiko menjadi limbah kembali saat rusak, kebutuhan akan bahan bakar bergerak secara konsisten setiap hari. Setiap rumah tangga senantiasa menghasilkan limbah kantong kresek, sehingga pasokan bahan baku tidak pernah terputus. Dengan mengubah limbah lingkungan menjadi energi solar yang bermanfaat, masyarakat tidak hanya mengatasi permasalahan penumpukan sampah di tempat pembuangan, tetapi juga memperoleh kemandirian energi yang hemat serta berkelanjutan.
Perlu diketahui juga bahwa dalam video tersebut narasumber vlog video menggunakan mobilnya sendiri merek Toyota Innova Reborn 2.5 bermesin diesel sebagai kendaraan operasional pribadinya. Ia memanfaatkan mobil tersebut untuk membuktikan keandalan bahan bakar solar olahan dari sampah plastik yang ia produksi sendiri, di mana kendaraan tersebut telah diisi solar olahan tersebut secara rutin selama lebih dari satu tahun tanpa kendala teknis.
Semoga infonya bermanfaat.
Kuningan Agustus 2026
Kuningan Agustus 2026