Ads

Sabtu, 13 Juli 2019

Pengalaman pengobatan alami pakai daun Kirinyuh


Pengalaman pengobatan alami pakai daun Kirinyuh
Pak Maman

Berawal dari pembicaraan dengan Pak Maman mengenai perikanan kolam tanah bagaimana memijahkan ikan nilem secara alami dan bagaimana membuat tempat pendederan untuk anakan ikannya. Memang kebetulan di lokasi Pak Maman tempatnya cocok sekali untuk pemijahan ikan, karena kolamnya yang tidak terlalu dalam.

Pak Maman sendiri belum sukses untuk hal pemijahan ikan, dia selalu membeli bibit ikan dari teman-temannya di sikitar Desa Kaliaren dan Linggaindah. Makanya dia selalu sharing dengan saya melalui buku-buku pertanian yang saya beli di Gramedia Cirebon. 

Seperti diketahui proses pemijahan alami diawali dengan pengeringan dasar kolam tanah selama beberapa hari sampai permukaan tanah nampak retak-retak. Pengeringan ini berguna untuk memutus siklus penyakit, menghilangkan zat beracun, serta menguapkan gas berbahaya yang terperangkap di dalam lumpur dasar. 

Setelah tanah cukup kering, pasangkan ijuk atau jaring halus yang dirangkai rapih di dasar kolam sebagai media kakaban penampung telur. Selanjutnya, masukkan air bersih secara perlahan hingga ketinggian mencapai sekitar setengah meter. Aliran air yang masuk akan merangsang indukan jantan dan betina untuk siap memijah. Indukan yang dipilih benar-benar matang gonad, ditandai dengan perut betina yang terasa membesar serta lembek saat dipegang, sementara indukan jantan mengeluarkan cairan putih bening bila dikurut pelan pada bagian perutnya. 

Setelah proses pelepasan dan pembuahan telur selesai di kolam pemijahan, perhatian berikutnya harus dialihkan pada penyiapan tempat pendederan untuk menampung anakan ikan yang baru menetas. Tempat pendederan berupa kolam tanah memerlukan perlakuan khusus agar persediaan pakan alami bagi benih ikan tercukupi secara berkesinambungan. Dasar kolam pendederan perlu diberi pupuk organik secukupnya sebelum diisi air. Pemberian pupuk ini bertujuan memicu pertumbuhan organisme mikroskopis seperti zooplankton, yang menjadi makanan utama bagi anakan ikan nilem pada minggu-minggu awal kehidupannya. 

Pengisian air di kolam pendederan dilakukan secara bertahap, mulai dari kedalaman dangkal sekitar dua puluh hingga tiga puluh sentimeter terlebih dahulu. Dibiarkan selama kurang lebih seminggu sampai warna air berubah menjadi kehijauan, menandakan bahwa keberadaan pakan alami sudah melimpah dan siap menyambut pemindahan benih dari kolam pemijahan. Dengan pengaturan tempat pendederan yang matang, tingkat kelangsungan hidup anakan ikan nilem dapat meningkat secara signifikan, sehingga pembudidaya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pembelian benih dari wilayah lain. 

Singkat cerita dia membicarakan tentang daun kirinyuh, yaitu salah satu daun yang biasa dijadikan pakan alami di kolamnya. Pak Maman bercerita bahwa sejak lama ia memanfaatkan tumbuhan semak ini sebagai pakan alami tambahan untuk ikan-ikan di kolam tanahnya. Daun yang dipetik langsung dilemparkan begitu saja ke permukaan air, dan tidak butuh waktu lama bagi ikan-ikan untuk berkumpul memakannya. Penggunaan dedaunan liar sebagai pakan alami sebenarnya merupakan kebiasaan lama secara turun-temurun oleh para pembudidaya lokal. 

Tanaman ini sangat mudah dilihat karena tumbuh liar di pekarangan, tepi jalan desa, hingga sudut-sudut area pertanian tanpa perlu perawatan khusus. Keberadaan tanaman ini kerap dianggap sebagai gulma pengganggu oleh Sebagian petani karena pertumbuhannya yang cepat dan masif. Namun di tangan pembudidaya seperti Pak Maman, tanaman liar ini justru dimanfaatkan menjadi sumber pakan hijau alternatif. 

Dan menariknya saya cek di internet apa itu daun Kirinyuh?, ternyata daun ini banyak sekali manfaatnya bahkan di marketplace daun ini dijual dengan ragam harga yang lumayan tinggi karena bisa bermanfaat untuk kesehatan.
Harganya pun terbilang cukup lumayan untuk ukuran tanaman liar. Banyak orang mencarinya dalam bentuk daun segar maupun olahan kering karena reputasinya yang kaya manfaat bagi kesehatan manusia, khususnya dalam tradisi pengobatan herbal alami. 

Penemuan di internet tersebut membuka sudut pandang baru dimana tumbuhan liar yang selama ini hanya dimanfaatkan sebatas pakan alami di tepi kolam tanah ternyata menyimpan potensi ekonomi serta manfaat kesehatan yang jauh lebih luas. Pak Maman sendiri baru tahu saat mendengar bahwa dedaunan yang saban hari diambil di pekarangan ternyata menjadi barang yang dicari banyak orang di internet. 

Informasi mengenai khasiat kesehatan daun kirinyuh yang saya temukan di internet
Setelah dia dikasih info tersebut terutama untuk hal pengobatan, lalu dia punya pengalaman dan cerita tentang daun yang punya dua jenis ini yaitu kirinyuh alam dan Kalianda (agak besar). 

Ia menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi jauh sebelum kawasan desa ini ramai oleh pemukiman, tepatnya sekitar tahun 1958, ketika wilayah perkebunan dan hutan di sekitarnya masih sangat lebat. Pada masa itu, nenek dari Pak Maman berjalan cukup jauh masuk ke dalam kawasan hutan untuk mengumpulkan kayu bakar guna kebutuhan dapur sehari-hari. 

Ketika sedang sibuk memotong dahan kering, sebuah kemalangan terjadi. Ujung arit tajam yang ia gunakan secara tidak sengaja mengenai bagian kakinya. Sabetan benda tajam tersebut menimbulkan luka terbuka yang cukup dalam, hingga darah segar mengucur deras membasahi tanah hutan. Di tengah lokasi yang sepi dan jauh dari pemukiman, tidak ada bantuan medis maupun peralatan medis modern yang bisa dijangkau dengan cepat.
Dalam keadaan terdesak dan menahan rasa sakit, neneknya mengandalkan pengetahuan alam yang diwariskan oleh para leluhur. 

ia segera mencari keberadaan tanaman kirinyuh yang tumbuh liar di antara semak-semak hutan. Setelah menemukan beberapa tangkai, ia bergegas memetik pucuk-pucuk daun yang paling muda dan segar. Pucuk dedaunan tersebut kemudian dilumatkan secara cepat menggunakan dua buah batu kali seadanya yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian hingga mengeluarkan cairan pekat berwarna hijau. Lumatan daun kirinyuh yang masih basah itu langsung ditempelkan secara tebal tepat di atas permukaan luka yang sedang mengeluarkan darah. 

Tak lama kemudian, pendarahan perlahan mulai berhenti dan rasa perih yang hebat menjadi lebih reda. Dengan kaki yang terbalut lumatan daun alami, ia berjalan perlahan menempuh perjalanan pulang menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih empat kilometer. Sesampainya di rumah, gulungan lumatan daun tersebut dilepas, dan nampak luka sabetan arit tersebut sudah mengering dengan sangat cepat tanpa mengalami infeksi atau pembengkakan yang berarti. 

Pengalaman bermanfaat yang dialami oleh nenek Pak Maman pada masa lalu semakin menegaskan berharganya tanaman liar ini jika dipahami karakter dan kegunaannya. Melalui pengamatan langsung di lapangan serta pengalaman yang diturunkan dalam keluarganya, Pak Maman menjelaskan bahwa tanaman kirinyuh di lingkungan sekitar sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua jenis utama berdasarkan ciri fisiknya. Pengetahuan lapangan seperti ini sangat berguna agar masyarakat tidak keliru saat mengenali bentuk fisiknya di alam bebas. 

Jenis pertama biasa disebut warga sebagai kirinyuh alam dimana jenis ini memiliki bentuk daun yang cenderug lebih kecil dengan helai yang lebih tipis, serta tumbuh rapat berupa semak belukar rendah di tepi jalan, pematang sawah, maupun kawasan pekarangan. Sementara jenis kedua dikenal dengan sebutan kirinyuh Kalianda. Berbeda dengan jenis pertama, kirinyuh Kalianda memiliki ukuran daun yang relatif lebih lebar, perawakan batang yang lebih tinggi kekar, serta daya adaptasi yang sangat kuat di area tanah yang kering. 

Walaupun terdapat perbedaan ukuran fisik, kedua jenis ini memiliki kandungan cairan alami pada pucuk daunnya yang sama-sama efektif digunakan untuk penanganan pertama pada cedera kulit. Untuk memanfaatkan tanaman ini sebagai obat herbal penyembuh luka luar, proses pengolahannya dilakukan dengan cara yang sangat praktis dan tradisional: 

Pemilihan Bahan: Petik tiga hingga lima lembar pucuk daun yang masih muda, segar, dan bebas dari debu atau kotoran. 

Pelumatan: Tumbuk atau lumatkan pucuk daun tersebut menggunakan tangan bersih atau batu yang rata sampai serat daun hancur dan mengeluarkan ekstrak cairan berwarna hijau pekat. 

Penerapan: Tempelkan lumatan daun yang telah halus tersebut secara merata tepat di atas permukaan kulit yang mengalami luka gores atau sabetan benda tajam.
Pengeringan: Biarkan lumatan tersebut menempel hingga mengering secara alami di permukaan kulit. 

Cairan pekat yang keluar dari lumatan pucuk daun bekerja dengan cara membantu mempercepat pembekuan darah pada luka yang masih terbuka. Senyawa alami di dalamnya juga berperan menutup celah luka dari paparan kotoran luar, sehingga risiko terjadinya pembengkakan dapat ditekan. Pengalaman praktis yang sudah berulang kali diterapkan oleh Pak Maman bagi anggota keluarganya sendiri membuktikan bahwa ramuan sederhana dari alam ini mampu membuat luka luar mengering dalam waktu yang terbilang singkat. 

Rangkaian obrolan ini memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana alam menyediakan solusi untuk kebutuhan manusia. Perjalanan diskusi yang berawal dari persoalan teknik pemijahan ikan nilem serta tata cara penyiapan kolam pendederan, ternyata membawa kita pada penemuan potensi luar biasa dari sebatang tanaman liar bernama kirinyuh. 

Meskipun Pak Maman tidak pernah mempelajari kandungan senyawa kimia secara mendalam di laboratorium ilmiah, pengalaman empiris yang diwariskan oleh nenek ia sejak tahun 1958 hingga praktek langsung pada keluarga sendiri telah menjadi bukti. Keberadaan tanaman ini baik jenis kirinyuh alam maupun kirinyuh Kalianda membuktikan bahwa bahan alami di sekitar pekarangan rumah dan tepi kolam tanah memiliki nilai guna yang sangat tinggi, baik sebagai pakan alternatif dalam dunia perikanan maupun sebagai pertolongan pertama untuk menyembuhkan luka luar. 

Diharapkan artikel berdasarkan pengalaman ini dapat memberikan wawasan baru dan inspirasi praktis bagi para rekan pembaca, khususnya para pembudidaya ikan air tawar serta masyarakat yang tertarik pada pemanfaatan obat-obatan herbal tradisional. Pengetahuan lokal yang bersumber dari pengalaman nyata seperti milik Pak Maman sudah sepatutnya terus didokumentasikan dan dibagikan agar tidak hilang ditelan zaman. Semoga catatan sederhana ini membawa manfaat untuk kesehatan dan usaha budidaya perikanan air tawar. 

Semoga infonya bermanfaat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan akan di moderasi dulu

Blogger Kuningan

Blogger Kuningan

4741