Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini

Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini
Admin mungkin menerima komisi dari link tiktok diatas

Sabtu, 09 Mei 2026

Menangkap ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung Jakarta pada tahun 2026

Berdasarkan pengalaman admin saat mengetahui dan diperkenalkan ikan sapu sapu oleh teman yaitu ada ikan unik yang bisa membersihkan lumut dalam aquarium sekitar pada tahun 1980 an, dimana ikan akan menempel di kaca dan memakan sisa-sisa lumut agar aquarium tetap terlihat bersih, pada waktu itu banyak sekali penghobies ikan hias menyukai ikan ini karena sifatnya yang pasif dan tidak terlalu banyak bergerak serta tidak mengganggu ikan lain. 

Namun kini pemandangan berbeda terlihat saat melihat ke aliran Sungai Ciliwung pada tahun 2026. Status ikan ini berubah total dari sekadar pembersih kaca menjadi penguasa tunggal yang mendominasi perairan sungai di Jakarta. 


Fenomena meledaknya populasi ikan sapu-sapu di Ciliwung memang menjadi perbincangan hangat. Ikan yang aslinya berasal dari sungai Amazon ini sanggup beradaptasi dengan sangat cepat di lingkungan baru. Sayangnya, kehadirannya yang terlalu banyak menjadi sinyal bahwa kondisi kesehatan sungai sedang tidak baik-baik saja. Ketika ikan lokal mulai sulit ditemukan, ikan sapu-sapu justru berkembang biak dengan sangat pesat, mengisi hampir setiap sudut dasar sungai yang berlumpur.

Saat ini, jika menebar jala di Sungai Ciliwung, kemungkinan besar sebagian besar isinya adalah ikan sapu-sapu. Data menunjukkan bahwa populasi ikan sapu-sapu sanggup menguasai lebih dari 60 persen isi sungai. Angka ini sangat besar dan menunjukkan betapa timpangnya ekosistem yang ada. Ikan lokal seperti tawes atau baung perlahan tersisih karena kalah bersaing dalam mencari tempat tinggal dan sumber makanan.

Dominasi ini terjadi bukan tanpa alasan. Ikan sapu-sapu termasuk jenis ikan teritorial yang sangat tangguh. Mereka tidak punya banyak musuh alami di perairan Indonesia, sehingga jumlahnya terus bertambah tanpa ada kendali alami. Kondisi air sungai yang cokelat dan penuh limbah bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk terus hidup dan memperluas wilayah kekuasaan di sepanjang aliran sungai.

Salah satu rahasia sukses ikan sapu-sapu dalam menjajah Ciliwung adalah daya tahan tubuhnya yang sangat kuat. Ikan ini sanggup bertahan hidup di air yang sangat kotor dan minim oksigen. Di saat ikan-ikan lain mati lemas karena polusi air yang tinggi, ikan sapu-sapu tetap bisa bernapas dengan bantuan sistem pencernaan mereka yang unik. Mereka bisa mengambil oksigen langsung dari udara jika kondisi air sudah benar-benar buruk.

Selain itu, kulit ikan sapu-sapu sangat keras dan bersisik tajam, mirip seperti lapisan baja. Perlindungan alami ini membuat mereka sulit diserang oleh predator. Kemampuan beradaptasi pada suhu air yang berubah-ubah serta toleransi tinggi terhadap limbah rumah tangga membuat ikan sapu-sapu menjadi spesies invasif yang sulit dihentikan. Mereka seolah menjadi penyintas terakhir di tengah rusaknya lingkungan perairan. 


Kehadiran ikan sapu-sapu dalam jumlah sangat banyak ternyata membawa dampak negatif bagi infrastruktur sungai. Ikan ini punya kebiasaan unik saat musim kawin, yaitu menggali lubang di tepian atau dasar sungai untuk meletakkan telur-telurnya. Lubang-lubang ini tidak hanya satu atau dua, tapi bisa mencapai ribuan di sepanjang bantaran sungai.

Kebiasaan menggali lubang ini secara perlahan membuat struktur tanah di pinggir sungai menjadi rapuh. Akibatnya, tanggul sungai menjadi lebih mudah longsor saat debit air meningkat. Selain merusak ekosistem dengan memakan telur ikan lokal, aktivitas fisik mereka juga mengubah bentang alam sungai secara drastis. Inilah alasan mengapa ikan sapu-sapu kini dianggap sebagai hama yang perlu segera ditangani agar kerusakan tidak semakin parah. Dengan memahami cara hidup mereka, langkah-langkah penanganan yang tepat bisa mulai dilakukan demi menyelamatkan sungai dan mendapatkan peluang di balik keberadaan mereka.

Melihat ikan sapu-sapu yang bertubuh besar dan berdaging tebal mungkin membuat sebagian orang terpikir untuk mengolahnya menjadi makanan. Namun, niat tersebut sebaiknya dibuang jauh-jauh. Ikan sapu-sapu yang hidup di Sungai Ciliwung berfungsi layaknya "penyedot debu" di dasar sungai. Selama hidupnya, ikan ini mengonsumsi lumut dan partikel di dasar air yang sudah tercemar berat.

Tubuh ikan sapu-sapu memiliki kemampuan menyerap unsur logam berat seperti merkuri dan timbal dalam jumlah tinggi. Logam-logam ini berasal dari limbah industri dan rumah tangga yang dibuang ke sungai selama bertahun-tahun. Karena sifatnya yang menetap di dasar sungai, ikan sapu-sapu menjadi wadah penampung racun yang sangat pekat.

Jika daging ikan ini dikonsumsi, logam berat tersebut akan berpindah ke tubuh manusia. Bahayanya tidak terlihat seketika, namun penumpukan logam berat dalam jangka panjang bisa merusak organ dalam, mengganggu sistem saraf, hingga memicu penyakit serius. Inilah alasan mengapa meskipun populasinya melimpah, ikan ini dilarang keras untuk dijadikan bahan makanan seperti siomay, pempek, atau olahan lainnya. Keamanan kesehatan keluarga jauh lebih berharga daripada mencoba memanfaatkan daging ikan yang sudah terkontaminasi.

Karena mengandung zat berbahaya, ikan sapu-sapu yang tertangkap tidak boleh dibuang sembarangan ke tempat sampah atau dibiarkan membusuk di pinggir jalan. Prosedur yang paling aman adalah dengan menguburnya di dalam lubang khusus yang jauh dari sumber air minum. Proses penguburan ini bertujuan agar bangkai ikan hancur secara alami tanpa menyebarkan bakteri atau bau menyengat ke lingkungan sekitar.

Melihat populasi yang sudah tidak terkendali, pemerintah daerah mulai mengambil langkah nyata. Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Bogor mulai menggerakkan aksi tangkap massal. Langkah ini diambil untuk mengurangi beban sungai dan memberi ruang bagi ikan lokal untuk kembali berkembang biak. Menariknya, program ini dirancang agar masyarakat mau terlibat aktif melalui sistem insentif.

Perburuan ikan sapu-sapu kini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan yang lumayan bagi warga di sekitar aliran sungai. Beberapa wilayah menerapkan kebijakan unik untuk menghargai setiap kilogram ikan yang berhasil diangkat dari air:

Di wilayah kelapa Gading petugas atau warga yang berhasil mengumpulkan ikan sapu-sapu bisa menukarkannya dengan uang tunai sebesar Rp. 5.000 untuk setiap satu kilogram  sementara di Jakarta Barat apresiasi yang diberikan jauh lebih besar. Setiap satu kilogram ikan dihargai hingga Rp. 25.000. 

Selain uang tunai, ada juga dalam bentuk apresiasi lain yang bikin semangat. Di beberapa tempat, warga yang paling rajin membantu membersihkan sungai dari hama ini diberikan hadiah tambahan berupa tiket liburan ke Ancol. Program ini mengubah kegiatan bersih-bersih lingkungan yang tadinya melelahkan menjadi kegiatan yang seru dan menguntungkan. Dengan cara ini, sungai menjadi lebih bersih, ekosistem perlahan pulih, dan kantong warga pun tetap terisi.

Berburu ikan sapu-sapu di sungai yang tercemar memerlukan persiapan agar tetap aman. Alat paling sederhana adalah jaring lempar atau jaring angkat dengan lubang yang tidak terlalu besar. Selain itu, karena sisik ikan ini sangat tajam dan kasar, pemakaian sarung tangan karet tebal sangat disarankan untuk menghindari luka gores juga memakai sepatu bot agar kaki terlindungi dari benda tajam atau pecahan kaca yang mungkin ada di dasar sungai.

Ikan sapu-sapu biasanya berkumpul di area sungai yang alirannya tenang dan memiliki banyak endapan lumpur atau lumut. Pada umumnya ikan sering terlihat menempel di dinding tanggul atau di bawah tumpukan sampah yang mengapung. Waktu terbaik untuk melakukan perburuan adalah saat pagi hari atau sore hari ketika ikan lebih aktif bergerak ke permukaan atau pinggiran sungai. 

Semoga infonya bermanfaat.




Kuningan Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan akan di moderasi dulu

Blogger Kuningan

Blogger Kuningan

4741

Download E-book Inspirasi

Dengan memasukkan email rekan pembaca untuk mendapatkan link download E-book Inspirasi PDF secara gratis.

Dapatkan E-book Sekarang