Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini

Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini
Admin mungkin menerima komisi dari link tiktok diatas

Minggu, 01 Februari 2026

Apakah ikan koi asal Blitar pudar?

Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel TRANS7 OFFICIAL yang diupload pada tanggal 22 Januari 2026 dengan judul " PUDARNYA PESONA IKAN KOI BLITAR | INDONESIAKU (20/01/26)". 

Di daerah Blitar, Jawa Timur sudah sekian lama dikenal sebagai pusat ikan koi terbesar di Indonesia. Kota ini pernah berjaya dengan produksi mencapai ratusan juta ekor koi setiap tahun, bahkan mampu memenuhi lebih dari 70 persen kebutuhan nasional. Sejarah panjang koi Blitar berawal dari beberapa ekor ikan yang dibawa oleh Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno, dan sejak itu berkembang menjadi ikon kebanggaan daerah. Namun, menurut info dari video, kejayaan itu kini mulai meredup. Data terbaru menunjukkan hanya sekitar 40-45 persen petani koi yang masih bertahan hingga akhir 2024, sebuah penurunan drastis dari masa keemasan lima tahun lalu.

Memelihara koi memang bukanlah pekerjaan mudah dimana dalam proses budidayanya menuntut kesabaran dan ketelitian tinggi. Ikan akan melewati tahapan penyortiran berkali-kali, hingga empat kali dalam masa pertumbuhan. Pada usia empat bulan, dilakukan sortir kedua untuk memisahkan koi berkualitas premium (Grade A) dari koi biasa yang disebut reject. Penilaian kualitas pun sangat ketat, mulai dari pola warna, kebersihan warna dasar, hingga bentuk tulang. Bahkan, bentuk mulut ikan menjadi penentu: mulut yang lebar dianggap mampu tumbuh besar, sementara mulut mengerucut biasanya tidak. Varietas populer seperti Kohaku, Sanke, dan Tancho menjadi primadona, tetapi faktor genetik tetap menjadi penentu harganya. Tantangan lain adalah sulitnya membedakan jenis kelamin koi sebelum berusia dua tahun, yang kadang bisa menyulitkan seperti yang pernah dialami Pak Purwo saat awal-awal menjadi breeder Koi.

Krisis koi Blitar terutama dipicu oleh ketidakseimbangan antara biaya operasional dan harga jual. Pakan khusus koi sangat mahal, di mana sekali pemberian makan bisa menelan biaya hingga Rp. 300.000. Untuk peternak besar, kebutuhan harian bisa mencapai Rp. 900.000. Selain itu, biaya listrik untuk aerator dan sistem filtrasi juga terus membengkak. Di sisi lain, harga jual koi justru merosot tajam. Ikan yang dulu bisa dijual Rp. 30.000 - Rp. 40.000 kini hanya dihargai Rp. 10.000 - Rp. 15.000. Kondisi ini dipengaruhi oleh masuknya koi impor, terutama dari Jepang, yang semakin menekan pasar lokal.

Menariknya, justru koi reject yang menjadi penyelamat bagi sebagian petani. Meski kualitasnya dianggap biasa, pasar koi reject lebih cepat berputar karena banyak dibeli secara borongan oleh penghobies koi rumahan. Sekitar 80 persen hasil panen masuk kategori ini, dan dari sinilah petani masih bisa bertahan. Namun, tidak semua mampu terus berjuang. Banyak petani senior akhirnya menyerah dan beralih usaha. Salah satunya Bapak Arsianto, yang setelah 17 tahun membudidayakan koi, kini memilih beralih ke ikan nila dan tanaman pangan. Meski keuntungan koi lebih tinggi, nila lebih menjanjikan dari sisi perputaran uang karena bisa dipanen tiga kali setahun, jauh lebih cepat dibanding koi. 

Pemerintah daerah berusaha menjaga eksistensi koi Blitar dengan mengadakan kontes rutin dan mendorong petani memanfaatkan pemasaran digital melalui media sosial. Namun, bagi para petani, langkah itu belum cukup. Mereka berharap adanya subsidi nyata, terutama untuk biaya pakan dan operasional, agar tradisi koi Blitar tidak hilang begitu saja. Sebab, bagi masyarakat Blitar, koi bukan sekadar ikan hias, melainkan simbol kebanggaan dan identitas daerah yang sudah mengakar puluhan tahun. 

Dalam liputan video ini menggambarkan bagaimana koi Blitar yang dulu berjaya kini menghadapi tantangan, dari biaya tinggi, harga jual rendah, hingga persaingan impor, semua menjadi ujian bagi para petani koi. Meski sebagian masih bertahan lewat pasar koi reject, banyak yang akhirnya memilih jalan lain. Kini, masa depan koi Blitar bergantung pada dukungan agar ikon kebanggaan ini tidak tinggal cerita. 

Meski banyak pihak menilai pesona koi Blitar mulai meredup, sejumlah komentar dari para penghobies dan pelaku usaha menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Koi Blitar sejatinya masih dibudidayakan oleh banyak petani hingga saat ini. Yang mengalami penurunan bukanlah semangat para peternak, melainkan pangsa pasar yang semakin mengecil, terutama dari kalangan penghobies menengah yang dulu menjadi tulang punggung penjualan.

Di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat, koi Blitar masih menjadi incaran seperti banyaknya pelanggan tetap menanyakan produk koi dari Blitar, menandakan bahwa reputasi dan kualitasnya belum sepenuhnya pudar. Namun, kondisi pasar saat ini berbeda. Stok koi yang melimpah membuat persaingan semakin ketat, sementara pembeli kini lebih selektif dalam memilih kualitas. Hal ini mendorong para breeder untuk memperbaiki genetik indukan agar menghasilkan koi yang lebih unggul. Beberapa peternak sukses bahkan dianggap layak untuk diangkat kisahnya sebagai inspirasi.

Permasalahan yang dihadapi petani koi adalah ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual. Konsumen, baik penjual maupun penghobies, menginginkan ikan dengan kualitas bagus tetapi dengan harga murah. Padahal, membesarkan koi membutuhkan biaya besar dan penuh risiko, mulai dari pakan hingga perawatan kolam. Ketika hasil penjualan tidak sebanding dengan pengeluaran, banyak petani akhirnya memilih berhenti atau bahkan gulung tikar.

Komentar-komentar ini menggambarkan bahwa koi Blitar sebenarnya masih memiliki tempat di hati para penghobies koi di Indonesia namun, perubahan pola pasar dan tuntutan harga murah menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi peternak. Jika tidak ada solusi yang menyeimbangkan antara biaya produksi dan harga jual, maka semakin banyak petani yang akan meninggalkan budidaya koi. Pada akhirnya, keberlangsungan koi Blitar bergantung pada bagaimana pasar dan para pelaku usaha bisa menemukan titik temu yang adil. 

Semoga infonya bermanfaat. 



Kuningan Februari 2026

Blogger Kuningan

Blogger Kuningan