Petualangan kali ini membawa team Dede Inoen menyusuri aliran sungai di kawasan Garut untuk memburu ikan sapu-sapu yang populasinya mulai tidak terkendali. Ikan sapu-sapu merupakan jenis spesies asing yang dapat merusak tatanan ekosistem air lokal secara besar-besaran.
Keberadaan ikan sapu-sapu di sungai membuat ikan asli Indonesia seperti nilem dan wader kehilangan tempat tinggal serta sumber makanan karena kalah bersaing. Oleh karena itu, aksi penangkapan ikan sapu-sapu ini menjadi langkah dalam menjaga kelestarian hayati di perairan tawar agar populasi ikan asli tetap terjaga dengan baik tanpa gangguan spesies invasif.
Selama proses penyusuran sungai, team menemukan fakta menarik mengenai variasi ikan sapu-sapu yang hidup di sana. Tidak semua ikan sapu-sapu memiliki tampilan hitam legam yang biasa dilihat di parit kota. Ia bahkan berhasil menangkap beberapa ekor ikan sapu-sapu albino yang memiliki warna kuning cerah.
Selama proses penyusuran sungai, team menemukan fakta menarik mengenai variasi ikan sapu-sapu yang hidup di sana. Tidak semua ikan sapu-sapu memiliki tampilan hitam legam yang biasa dilihat di parit kota. Ia bahkan berhasil menangkap beberapa ekor ikan sapu-sapu albino yang memiliki warna kuning cerah.
Ikan sapu-sapu jenis ini sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi di kalangan kolektor ikan hias, namun di alam liar tetap dianggap sebagai hama yang mengganggu keseimbangan lingkungan karena pola makannya yang rakus dan kemampuan adaptasi yang luar biasa cepat di berbagai kondisi air.
Selain varian albino, ditemukan juga ikan sapu-sapu jenis lain atau sapu-sapu kumis. Karakteristik ikan sapu-sapu ini cukup unik karena memiliki tonjolan seperti tanduk di bagian kepala yang menyerupai kumis. Meskipun terlihat menarik bagi sebagian orang, ikan sapu-sapu ini sangat cepat berkembang biak karena tidak memiliki predator alami di sungai-sungai Indonesia.
Jika dibiarkan terus menerus tanpa adanya upaya pengendalian, ikan sapu-sapu akan mendominasi seluruh area sungai dan memicu kepunahan ikan-ikan lokal yang selama ini menjadi sumber protein bagi warga sekitar.
Dede Inoen memang sempat menyebutkan hal itu sebagai solusi praktis bagi para penghobies ikan hias yang sudah merasa bosan dengan peliharaannya. Daripada dibuang ke sungai dan menjadi hama bagi lingkungan, ia menyarankan agar ikan tersebut lebih baik diberikan kepada kucing saja.
Pesan ini bertujuan untuk menghentikan kebiasaan masyarakat melepas spesies invasif seperti ikan sapu-sapu ke perairan bebas, karena tindakan tersebut sangat merusak populasi ikan asli Indonesia yang ada di sungai.
Upaya ini dilakukan agar bangkai ikan hasil pembasmian hama tidak dibuang sembarangan atau dikubur secara sia-sia, melainkan diubah menjadi barang yang memiliki nilai seni atau manfaat lain bagi masyarakat.
Hasil dari perburuan ikan sapu-sapu ini tidak dibuang begitu saja ke tempat sampah. Mengingat adanya resiko kandungan logam berat pada dagingnya, ikan sapu-sapu yang tertangkap akan diolah menjadi bahan kerajinan tangan yang bermanfaat. Mengeringkan ikan sapu-sapu merupakan salah satu cara efektif untuk memanfaatkan limbah biologis ini tanpa mencemari lingkungan sekitar.
Maksud dari rencana pembuatan kerajinan tersebut adalah sebagai langkah alternatif untuk memanfaatkan tubuh ikan sapu-sapu yang telah ditangkap tanpa mengonsumsinya dan menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu di wilayah tersebut dikhawatirkan mengandung polutan atau zat berbahaya seperti merkuri jika dimakan, sehingga ia memilih untuk menjemur dan mengeringkan ikan-ikan tersebut guna dijadikan bahan kreasi tangan atau pajangan
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan lebih bijak untuk tidak melepas ikan sapu-sapu ke sungai secara sembarangan agar ekosistem sungai tetap sehat dan lestari untuk generasi kedepannya.
Semoga infonya bermanfaat.
Kuningan Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pesan akan di moderasi dulu