Pemeriksaan terhadap ikan yang mati menunjukkan gejala yang cukup serius yaitu tubuh ikan tampak penuh luka merah, insang berubah pucat hingga memutih, dan sisik mudah terkelupas. Kondisi fisik juga melemah karena tidak mendapatkan pakan secara rutin, baik dari segi kualitas maupun jumlah.
Situasi ini memperlihatkan bahwa ikan mengalami tekanan serangan penyakit sekaligus kekurangan nutrisi. Gejala tersebut jelas mengindikasikan adanya gangguan pada sistem pernapasan dan daya tahan tubuh, yang membuat ikan semakin rentan terhadap serangan parasit maupun perubahan lingkungan.
Penyebab kematian massal ini ditemukan berasal dari serangan parasit cacing jangkar (Lernaea sp.). Parasit tersebut menempel pada kulit, insang, dan rongga mulut ikan, menyebabkan luka terbuka yang memicu infeksi lebih lanjut. Namun, faktor lingkungan juga berperan besar memperburuk keadaan.
Suhu air yang relatif rendah membuat metabolisme ikan terganggu, pH air yang cenderung asam mengganggu keseimbangan fisiologis, dan kadar fosfat yang sangat rendah menurunkan kualitas ekosistem kolam. Kombinasi faktor biologis dan lingkungan ini secara akumulatif melemahkan sistem kekebalan tubuh ikan, sehingga mereka tidak mampu bertahan menghadapi serangan penyakit.
Dampak dari peristiwa ini tidak hanya terasa pada aspek ekologis, tetapi juga sosial dan budaya. Kematian massal ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya warisan budaya yang telah dijaga turun-temurun. Bagi masyarakat, ikan dewa adalah bagian dari identitas lokal. Peristiwa ini sekaligus membuka mata bahwa menjaga ekosistem bukan hanya soal tradisi, tetapi juga tanggung jawab ilmiah dan ekologis.
Dari kasus ini, terdapat pelajaran penting yang bisa dipelajari yaitu perawatan rutin terhadap ikan yang dijaga perlu lebih diperhatikan, terutama dari segi pakan dan kesehatan. Pemantauan kualitas air menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian satwa air, sementara pencegahan parasit melalui pengelolaan lingkungan yang baik dapat mengurangi risiko kematian massal.
Kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan agar tradisi dan ekosistem tetap terjaga. Jika langkah-langkah pencegahan tidak segera dilakukan, bukan tidak mungkin ikan dewa yang dianggap simbol di Kuningan ini akan semakin terancam keberadaannya, dan pada akhirnya bisa hilang dari ekosistem di perairan Kuningan.
Semoga infonya bermanfaat.
Kuningan Februari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pesan akan di moderasi dulu