Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini

Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini
Admin mungkin menerima komisi dari link tiktok diatas

Minggu, 22 Februari 2026

Limbah kotoran kambing menjadi biogas sederhana

Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel KIHD Creation yang diupload pada tanggal 28 Maret 2021 dengan judul " "Membut Biogas Dari Kotoran Kambing". 


Limbah kotoran kambing sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan tidak berguna. Namun, dengan teknologi sederhana, limbah ini bisa diubah menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, yaitu biogas. Biogas yang dihasilkan dari fermentasi kotoran kambing ini dapat digunakan untuk memasak sehari-hari, sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah ternak yang tidak terkelola dengan baik.

Untuk membuat sistem biogas sederhana ini, ada beberapa bahan dan peralatan yang perlu disiapkan. Bahan yang digunakan adalah kotoran kambing, yang bisa juga diganti dengan limbah organik lain seperti rumput, serta air. Selanjutnya, diperlukan wadah tertutup yang disebut bak digester. Wadah ini benar-benar rapat dan tidak bocor agar gas yang dihasilkan tidak terbuang. Biasanya, wadah bekas cat atau jerigen bisa dimanfaatkan sebagai bak digester.

Selain itu, ada beberapa komponen instalasi yang disiapkan, seperti pipa berukuran 3/4 inci untuk mengalirkan gas, tabung bekas pompa air yang berfungsi sebagai penampung gas, dan keran sebagai saluran pengeluaran gas yang nantinya akan digunakan untuk memasak.

Langkah pertama adalah merakit bak digester dengan pipa dan penampung gas. Penting untuk memastikan semua sambungan pipa dan wadah benar-benar rapat agar gas yang dihasilkan tidak bocor dan terbuang sia-sia. Setelah itu, campurkan kotoran kambing dengan air dengan perbandingan 1 banding 1. Campuran ini diaduk hingga merata supaya proses fermentasi berjalan optimal.

Setelah campuran siap, masukkan ke dalam bak digester dan tutup rapat. Untuk memastikan tidak ada udara yang masuk atau gas yang keluar, lapisi penutup dengan plastik tambahan. Hal ini penting agar proses fermentasi berjalan dengan baik dan gas yang dihasilkan bisa maksimal.

Proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar 15 hari. Selama waktu ini, mikroorganisme akan menguraikan limbah organik dalam kondisi tanpa udara (anaerob), sehingga menghasilkan gas metana yang bisa digunakan sebagai bahan bakar. Setelah 15 hari, biogas sudah bisa diuji dengan cara menyulutkan api pada saluran gas. Jika api menyala dengan stabil, itu berarti biogas sudah siap digunakan untuk memasak.

Dengan cara ini, limbah kotoran kambing yang sebelumnya hanya menjadi masalah lingkungan, kini bisa diubah menjadi energi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama di desa-desa yang memiliki keterbatasan akses energi. Selain menghemat biaya bahan bakar, penggunaan biogas juga membantu menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi pencemaran.

Dengan metode sederhana ini, siapa saja bisa mulai memanfaatkan limbah ternak menjadi sumber energi yang ramah lingkungan dan ekonomis. Ini adalah langkah kecil yang berdampak besar untuk kehidupan yang lebih bersih dan berkelanjutan. 

Video praktek pembuatan biogas kotoran kambing ini berhasil menarik perhatian penonton dengan beragam komentar. Ada yang memberikan apresiasi, ada pula yang menyampaikan kritik dan pertanyaan teknis. Hal ini menunjukkan bahwa konten semacam ini mampu memicu diskusi interaktif di antara penonton dan pengelola channel.

Salah satu komentar, “Mantap... namun tidak tuntas serta tidak cukup memuaskan videonya... saya tunggu episodenya yang lebih komplet ya.” Komentar ini menggambarkan antusiasme sekaligus harapan agar konten berikutnya lebih detail dan menyeluruh. Kritik yang disampaikan tetap bernuansa positif, karena penonton menantikan kelanjutan eksperimen tersebut.

Selain itu, ada juga penonton yang bertanya mengenai mekanisme tutup cat dalam percobaan. Ia menulis, “Tutup catnya perlu ditekan ya mas, biar keluar gasnya?” Pertanyaan ini dijawab oleh admin channel dengan penjelasan sederhana, “Iya, soalnya gasnya masih sedikit. Kalau dibiarkan lama semakin banyak gas yang muncul, jadi tekanannya semakin tinggi.” Jawaban tersebut memberikan pemahaman dasar tentang bagaimana tekanan gas bekerja.

Tak hanya itu, muncul pula pertanyaan lain seputar wadah penampung gas. Seorang penonton bertanya, “Maaf mau nanya, kalau penampung gasnya menggunakan akua bisa nggak gan? Makasih.” Admin channel menjawab, “Bisa, yang penting tidak bocor.” Penjelasan singkat ini menekankan bahwa wadah apapun bisa digunakan selama kedap dan aman.

Dari rangkaian komentar ini terlihat bahwa penonton tidak hanya pasif menonton, tetapi juga aktif berdiskusi dan mencari pengetahuan tambahan. Sementara itu, admin channel merespons dengan jawaban yang lugas dan informatif. Interaksi semacam ini memperlihatkan bagaimana sebuah konten eksperimen dapat menjadi sarana edukasi sekaligus membangun komunitas belajar yang interaktif.


Semoga infonya bermanfaat.



Kuningan Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan akan di moderasi dulu

Blogger Kuningan

Blogger Kuningan