Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel JAMM VLOG yang diupload pada tanggal 26 Januari 2026 dengan judul "MEGATANK IKAN PREDATOR AMAZON !!! KOLEKSINYA BIKIN IRI - ADA BANYAK DUIT JUGA GAK KEBELI".
Dalam video ini menampilkan kunjungan Anthony Saputra ke rumah salah satu penghobies ikan predator, yang merupakan customer dari Bang Marcel dari Fish and Furious. Keduanya memperlihatkan keseriusan seorang penghobies dalam membangun ekosistem megatank dengan koleksi ikan eksotisnya.
Sejak awal video langsung diperlihatkan aquarium yang akan direview oleh Koh Anthony dan hampir semua ikan di sini berasal dari Fish and Furious. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah pari Sakura berukuran besar, keturunan F1 dari tangkapan alam. Coraknya menyerupai bunga sakura, menjadikannya salah satu koleksi paling prestisius. Bang Marcel menjelaskan bahwa meski memiliki banyak uang, tidak semua orang bisa mendapatkan pari jenis ini karena stoknya sangat terbatas dan sulit beradaptasi jika langsung diambil dari alam.
Koh Anthony sempat menanyakan keamanan memelihara pari di kolam dengan dasar bebatuan. Bang Marcel menjelaskan bahwa hal ini aman selama menggunakan batu pipih yang tidak tajam. Di bawah bebatuan terdapat lapisan screen agar tidak menyumbat saluran pembuangan. Selain itu, penggunaan garam untuk perawatan mingguan diperbolehkan, dengan catatan perlu dilarutkan terlebih dahulu agar tidak merusak kulit pari yang sensitif terhadap garam.
Aquarium ini bukan hanya berisi pari saja, tetapi juga berbagai ikan predator dari periaran Sungai Amazon dan daerah lain. Kehadiran ikan-ikan lain ini berfungsi menjaga kebersihan kolam dengan memakan sisa-sisa kotoran ikan utama dalam aquarium.
Penghobies ini memiliki sistem pembesaran ikan yang rapi dan terstruktur dimana aquarium yang awalnya digunakan untuk karantina kini difungsikan sebagai tempat pembesaran anakan pari sebelum dipindahkan ke kolam atau fiber besar. Kolam fiber kustom dari Limas Fiberindo dilengkapi sistem top filter yang rapi dengan finishing berkualitas tinggi. Marcel juga memberi edukasi mengenai fenomena bacterial bloom, yaitu kondisi air keruh setelah ganti air. Menurutnya, hal ini normal dan akan kembali jernih dalam 1–2 hari setelah penambahan bakteri baru.
Di akhir video, Koh Anthony mengungkapkan bahwa Bang Marcel telah menjadi mentornya selama enam tahun terakhir dalam dunia ikan predator. Ia menekankan pentingnya edukasi, kesabaran, dan pemahaman mendalam dalam memelihara pari, terutama bagi yang ingin mencapai tahap pembiakan.
Artikel review video youtube short kali ini adalah dari channel Hanza Teknik yang diupload pada tanggal 17 Februari 2024 dengan judul "Cara kerja water heater gas".
Water heater gas adalah perangkat yang dirancang untuk memanaskan air secara otomatis dengan memanfaatkan energi dari pembakaran gas. Sistem ini bekerja dengan cukup sederhana, namun sangat efisien dalam memenuhi kebutuhan air panas sehari-hari.
Proses pemanasan dimulai ketika keran air panas dibuka. Pada saat itu, air dingin akan masuk ke dalam unit water heater. Aliran air ini kemudian dideteksi oleh sebuah komponen penting bernama flow sensor. Sensor ini berfungsi sebagai pemicu awal yang memberi sinyal bahwa ada kebutuhan air panas.
Begitu sensor mendeteksi adanya aliran air, pembakar atau burner akan otomatis menyala. Burner ini bekerja layaknya kompor gas, menghasilkan api yang digunakan untuk memanaskan bagian utama dari sistem, yaitu heat exchanger. Heat exchanger adalah komponen yang bertugas mentransfer panas dari api pembakar ke air yang sedang mengalir melewatinya.
Air dingin yang masuk akan bersirkulasi melewati heat exchanger. Di sinilah proses pemanasan terjadi. Panas dari pembakar berpindah ke air, sehingga suhu air meningkat sesuai kebutuhan. Setelah itu, air panas dialirkan keluar melalui saluran pipa menuju keran, siap digunakan untuk mandi, mencuci, atau kebutuhan lainnya.
Sistem ini juga dilengkapi dengan mekanisme otomatis untuk berhenti bekerja. Ketika keran air panas ditutup, aliran air pun berhenti. Flow sensor tidak lagi mendeteksi adanya gerakan air, sehingga burner akan mati secara otomatis. Hal ini bukan hanya membuat penggunaan lebih efisien, tetapi juga menjaga keamanan agar tidak ada pembakaran gas yang sia-sia.
Secara keseluruhan, water heater gas bekerja dengan prinsip sederhana: adanya aliran air memicu sistem pemanas, dan berhentinya aliran air menghentikan proses pembakaran. Dengan cara kerja otomatis ini, pengguna bisa mendapatkan air panas kapan saja tanpa perlu menyalakan atau mematikan alat secara manual.
Video mengenai cara kerja water heater gas ternyata memunculkan beragam komentar dari para penonton. Banyak yang penasaran bagaimana sistem ini bekerja, apakah harus dinyalakan dan dimatikan secara manual, atau cukup membuka keran saja. Seorang pengguna bertanya, “Ini apakah setiap mau pakai harus di-on kan dan setelah pakai dimatikan, atau buka kran saja otomatis? Bisa nyala dan mati sendiri?” Pertanyaan ini cukup mewakili rasa ingin tahu banyak orang yang belum familiar dengan sistem otomatis pada water heater gas.
Selain itu, muncul pula perdebatan mengenai keamanan antara water heater gas dan listrik. Ada yang berkomentar bahwa sebenarnya water heater gas kurang aman, dan lebih baik menggunakan listrik. Namun, komentar ini langsung ditanggapi oleh pengguna lain dengan pertanyaan balik, “Kurang aman gimana pak?”
Diskusi pun berlanjut. Seorang pengguna menilai bahwa justru water heater listrik bisa lebih berbahaya. Alasannya, jika terjadi kerusakan, air yang dialirkan bisa berpotensi menyetrum. Di sisi lain, ada yang menambahkan bahwa penggunaan listrik membutuhkan daya watt yang besar, proses pemanasan lebih lama, dan jika air panas habis maka harus dipanaskan ulang.
Sementara itu, pendukung water heater gas berpendapat bahwa sistem ini lebih praktis. Air bisa langsung panas saat keran dibuka, dan proses pemanasan berhenti otomatis ketika keran ditutup. Meski begitu, ada saran agar unit water heater gas sebaiknya ditempatkan di luar kamar mandi untuk alasan keamanan.
Dari ragam komentar ini terlihat bahwa masing-masing jenis water heater memiliki kelebihan dan kekurangan. Gas unggul dalam kecepatan dan efisiensi, sementara listrik dianggap lebih modern namun membutuhkan daya besar dan berisiko jika terjadi kerusakan. Pada akhirnya, pilihan kembali kepada kebutuhan dan kenyamanan pengguna, serta bagaimana mereka memastikan pemasangan dan penggunaan dilakukan dengan aman.
Memelihara ikan Molly (Poecilia sphenops) memberikan kepuasan tersendiri bagi para penghobies ikan hias, terutama saat menyaksikan momen ikan ini melahirkan. Sebagai ikan jenis ovovivipar, Molly tidak meletakkan telur di tanaman, melainkan mengandung dan melahirkan anak yang sudah bisa berenang mandiri. Namun, tanpa pemahaman yang tepat, proses yang seharusnya menggembirakan ini bisa berakhir menyedihkan karena sifat kanibalisme ikan dewasa terhadap bayinya sendiri (burayak).
Mengenali tanda kehamilan dan melahirkan, pengalaman sukses dalam budidaya Molly dimulai dari ketelitian pemilik dalam mengamati perubahan fisik induk. Ikan Molly betina yang sedang hamil akan menunjukkan perut yang membuncit secara signifikan hingga menyerupai bentuk kotak jika dilihat dari sudut tertentu. Salah satu tanda paling akurat adalah munculnya gravid spot atau bercak kehamilan yang berwarna gelap di dekat sirip dubur.
Bercak ini sebenarnya adalah kumpulan mata burayak yang sudah berkembang di dalam perut induk. Secara perilaku, induk yang sudah mendekati waktu persalinan (biasanya 28 hingga 45 hari masa kehamilan) akan cenderung memisahkan diri dari kawanannya, lebih sering berdiam diri di dasar akuarium, atau bersembunyi di balik dekorasi untuk mencari ketenangan dari kejaran pejantan yang agresif.
Sangat disarankan untuk memindahkan induk ke aquarium karantina atau menggunakan sekat khusus guna memastikan keamanan bayi yang baru lahir. Proses melahirkan Molly bisa berlangsung selama beberapa jam hingga seharian penuh, tergantung pada usia dan kesehatan induk. Seekor Molly dewasa dapat melahirkan antara 20 hingga 100 ekor burayak dalam satu sesi. Begitu proses melahirkan selesai yang ditandai dengan perut induk yang kembali mengecil segera kembalikan induk ke akuarium utama. Hal ini sangat krusial karena insting alami Molly tidaklah menjaga anaknya justru sering menganggap bayi yang baru lahir sebagai sumber protein atau makanan.
Setelah bayi-bayi Molly lahir, tantangan berikutnya adalah menjaga tingkat kelangsungan hidupny. Pada waktu 24 hingga 48 jam pertama, burayak biasanya masih memiliki cadangan makanan (yolk sac) di tubuhnya, sehingga tidak perlu langsung diberi makan. Setelah itu, berikan pakan berkualitas tinggi yang sesuai dengan ukuran mulutnya, seperti Artemia atau kutu air (Moina/Daphnia). Menjaga kualitas air tetap stabil sangat penting, namun hindari penggunaan filter dengan daya hisap kuat yang dapat menyedot bayi ikan. Dengan nutrisi yang tepat dan kebersihan air yang terjaga, dalam waktu 4 hingga 6 minggu, bayi Molly akan tumbuh cukup besar untuk bisa bergabung kembali dengan ikan dewasa tanpa risiko dimakan.
Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel TRANS7 OFFICIAL yang diupload pada tanggal 22 Januari 2026 dengan judul " PUDARNYA PESONA IKAN KOI BLITAR | INDONESIAKU (20/01/26)".
Di daerah Blitar, Jawa Timur sudah sekian lama dikenal sebagai pusat ikan koi terbesar di Indonesia. Kota ini pernah berjaya dengan produksi mencapai ratusan juta ekor koi setiap tahun, bahkan mampu memenuhi lebih dari 70 persen kebutuhan nasional. Sejarah panjang koi Blitar berawal dari beberapa ekor ikan yang dibawa oleh Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno, dan sejak itu berkembang menjadi ikon kebanggaan daerah. Namun, menurut info dari video, kejayaan itu kini mulai meredup. Data terbaru menunjukkan hanya sekitar 40-45 persen petani koi yang masih bertahan hingga akhir 2024, sebuah penurunan drastis dari masa keemasan lima tahun lalu.
Memelihara koi memang bukanlah pekerjaan mudah dimana dalam proses budidayanya menuntut kesabaran dan ketelitian tinggi. Ikan akan melewati tahapan penyortiran berkali-kali, hingga empat kali dalam masa pertumbuhan. Pada usia empat bulan, dilakukan sortir kedua untuk memisahkan koi berkualitas premium (Grade A) dari koi biasa yang disebut reject. Penilaian kualitas pun sangat ketat, mulai dari pola warna, kebersihan warna dasar, hingga bentuk tulang. Bahkan, bentuk mulut ikan menjadi penentu: mulut yang lebar dianggap mampu tumbuh besar, sementara mulut mengerucut biasanya tidak. Varietas populer seperti Kohaku, Sanke, dan Tancho menjadi primadona, tetapi faktor genetik tetap menjadi penentu harganya. Tantangan lain adalah sulitnya membedakan jenis kelamin koi sebelum berusia dua tahun, yang kadang bisa menyulitkan seperti yang pernah dialami Pak Purwo saat awal-awal menjadi breeder Koi.
Krisis koi Blitar terutama dipicu oleh ketidakseimbangan antara biaya operasional dan harga jual. Pakan khusus koi sangat mahal, di mana sekali pemberian makan bisa menelan biaya hingga Rp. 300.000. Untuk peternak besar, kebutuhan harian bisa mencapai Rp. 900.000. Selain itu, biaya listrik untuk aerator dan sistem filtrasi juga terus membengkak. Di sisi lain, harga jual koi justru merosot tajam. Ikan yang dulu bisa dijual Rp. 30.000 - Rp. 40.000 kini hanya dihargai Rp. 10.000 - Rp. 15.000. Kondisi ini dipengaruhi oleh masuknya koi impor, terutama dari Jepang, yang semakin menekan pasar lokal.
Menariknya, justru koi reject yang menjadi penyelamat bagi sebagian petani. Meski kualitasnya dianggap biasa, pasar koi reject lebih cepat berputar karena banyak dibeli secara borongan oleh penghobies koi rumahan. Sekitar 80 persen hasil panen masuk kategori ini, dan dari sinilah petani masih bisa bertahan. Namun, tidak semua mampu terus berjuang. Banyak petani senior akhirnya menyerah dan beralih usaha. Salah satunya Bapak Arsianto, yang setelah 17 tahun membudidayakan koi, kini memilih beralih ke ikan nila dan tanaman pangan. Meski keuntungan koi lebih tinggi, nila lebih menjanjikan dari sisi perputaran uang karena bisa dipanen tiga kali setahun, jauh lebih cepat dibanding koi.
Pemerintah daerah berusaha menjaga eksistensi koi Blitar dengan mengadakan kontes rutin dan mendorong petani memanfaatkan pemasaran digital melalui media sosial. Namun, bagi para petani, langkah itu belum cukup. Mereka berharap adanya subsidi nyata, terutama untuk biaya pakan dan operasional, agar tradisi koi Blitar tidak hilang begitu saja. Sebab, bagi masyarakat Blitar, koi bukan sekadar ikan hias, melainkan simbol kebanggaan dan identitas daerah yang sudah mengakar puluhan tahun.
Dalam liputan video ini menggambarkan bagaimana koi Blitar yang dulu berjaya kini menghadapi tantangan, dari biaya tinggi, harga jual rendah, hingga persaingan impor, semua menjadi ujian bagi para petani koi. Meski sebagian masih bertahan lewat pasar koi reject, banyak yang akhirnya memilih jalan lain. Kini, masa depan koi Blitar bergantung pada dukungan agar ikon kebanggaan ini tidak tinggal cerita.
Meski banyak pihak menilai pesona koi Blitar mulai meredup, sejumlah komentar dari para penghobies dan pelaku usaha menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Koi Blitar sejatinya masih dibudidayakan oleh banyak petani hingga saat ini. Yang mengalami penurunan bukanlah semangat para peternak, melainkan pangsa pasar yang semakin mengecil, terutama dari kalangan penghobies menengah yang dulu menjadi tulang punggung penjualan.
Di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat, koi Blitar masih menjadi incaran seperti banyaknya pelanggan tetap menanyakan produk koi dari Blitar, menandakan bahwa reputasi dan kualitasnya belum sepenuhnya pudar. Namun, kondisi pasar saat ini berbeda. Stok koi yang melimpah membuat persaingan semakin ketat, sementara pembeli kini lebih selektif dalam memilih kualitas. Hal ini mendorong para breeder untuk memperbaiki genetik indukan agar menghasilkan koi yang lebih unggul. Beberapa peternak sukses bahkan dianggap layak untuk diangkat kisahnya sebagai inspirasi.
Permasalahan yang dihadapi petani koi adalah ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual. Konsumen, baik penjual maupun penghobies, menginginkan ikan dengan kualitas bagus tetapi dengan harga murah. Padahal, membesarkan koi membutuhkan biaya besar dan penuh risiko, mulai dari pakan hingga perawatan kolam. Ketika hasil penjualan tidak sebanding dengan pengeluaran, banyak petani akhirnya memilih berhenti atau bahkan gulung tikar.
Komentar-komentar ini menggambarkan bahwa koi Blitar sebenarnya masih memiliki tempat di hati para penghobies koi di Indonesia namun, perubahan pola pasar dan tuntutan harga murah menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi peternak. Jika tidak ada solusi yang menyeimbangkan antara biaya produksi dan harga jual, maka semakin banyak petani yang akan meninggalkan budidaya koi. Pada akhirnya, keberlangsungan koi Blitar bergantung pada bagaimana pasar dan para pelaku usaha bisa menemukan titik temu yang adil.