Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel deHakims channel yang diupload pada tanggal 12 Januari 2025 dengan judul “MAJALENGKA GEMPAR..! BOSKOI MELEPASKAN RIBUAN KOI KE SITU CIPANTEN..!”. Dalam video terlihat bagaimana ribuan ikan koi akan dilepaskan ke dalam perairan Situ Cipanten yang merupakan tempat wisata.
Dan pada pelepasan ikan koi ini dapat dilihat di video yang diupload pada tanggal 13 Januari 2026 dengan judul "PERTAMA KALI..! BERENANG BERSAMA RIBUAN IKAN KOI DI SITU CIPANTEN MAJALENGKA..!". Acara yang ramai ini bukan saja tentang pelepasan ikan cantik ini, tetapi juga menjadi simbol dukungan terhadap pengembangan pariwisata di Jawa Barat.
Menurut keterangan Pak Hartono ada sebanyak 2.160 ekor ikan koi berukuran besar, mulai dari 30 cm hingga mencapai 75 cm, dilepaskan ke dalam danau. Ikan-ikan ini bukan sembarang koi, melainkan keturunan Jepang dengan nilai yang disebut bisa mencapai harga yang sangat tinggi nilainya. Kehadiran ikan koi berwarna-warni ini diharapkan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan, menjadikan Situ Cipanten sebagai destinasi yang unik dan berbeda dari tempat wisata lain di Jawa Barat.
Berdasarkan info dari vlog video bahwa di Situ Cipanten ini terdapaf tujuh mata air alami yang membuat airnya jernih, segar, dan bebas dari limbah maupun bakteri. Kondisi tersebut sangat ideal untuk pertumbuhan ikan koi. Dengan tambahan ribuan koi yang berenang bebas, keindahan Situ semakin memikat. Pemerintah daerah bahkan menargetkan jumlah pengunjung bisa mencapai 300.000 orang pada tahun 2026, menjadikan Cipanten sebagai salah satu ikon wisata Majalengka.
Irfan Hakim dalam kesempatan itu berpesan agar masyarakat tidak memancing atau menangkap ikan koi tersebut. Ikan-ikan ini lebih bernilai sebagai daya tarik wisata dan objek foto ketimbang dikonsumsi. Ia juga mendorong pengunjung untuk memberi makan koi dengan pakan yang tersedia di lokasi, sehingga ikan-ikan tetap sehat dan gemuk. Selain itu, menjaga kebersihan air menjadi hal yang sangat penting. Sampah dan limbah sabun dilarang keras dibuang ke dalam situ agar ekosistem tetap terjaga.
Kegiatan ini mendapat sambutan meriah dari masyarakat Majalengka dimana ribuan warga hadir menyaksikan akan adanya acara pelepasan ikan koi. Rombongan yang juga hadir Koh Audrey A King Of The Jungle disambut dan didampingi langsung oleh Bapak Bupati Majalengka, Drs. H. Eman Suherman, MM, yang menunjukkan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Kehadiran pejabat daerah menambah semarak acara, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata lokal.
Pelepasan ribuan ikan koi di Situ Cipanten merupakan upaya dalam mengangkat potensi wisata di Majalengka. Dengan dukungan tokoh publik seperti Irfan Hakim dan Pak Hartono, serta sambutan hangat dari masyarakat dan pemerintah daerah, Situ Cipanten kini memiliki daya tarik baru yang bisa mendongkrak kunjungan wisatawan. Jika masyarakat ikut menjaga kebersihan dan kelestarian, maka keindahan Situ dengan ribuan koi ini akan menjadi kebanggaan Majalengka untuk waktu yang lama.
Video pelepasan ikan koi di sebuah situ di Majalengka ternyata memunculkan beragam tanggapan, dari komentar-komentar yang muncul menunjukkan adanya perbedaan pandangan, mulai dari sisi ekologis yang admin soroti.
Salah satu komentar yang cukup panjang membahas soal asal-usul ikan koi. Menurut pengguna tersebut, koi bukanlah hewan endemik asli Indonesia. Ia khawatir jika dilepaskan ke alam liar, ikan ini bisa menjadi spesies invasif yang berpotensi mengganggu ekosistem mata air. Kekhawatiran ini muncul karena koi dikenal mudah berkembang biak, dan jika benih yang dilepas terdiri dari jantan dan betina, maka anak-anak ikan berukuran kecil bisa keluar melalui saluran pembuangan air dan akhirnya sampai ke sungai di hilir.
Komentar ini juga menyinggung nilai sejarah dari lokasi pelepasan. Situ tersebut disebut-sebut sebagai tempat yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi. Karena itu, menurutnya akan lebih bijak jika yang dilepaskan adalah ikan endemik seperti Ikan Dewa, yang memiliki kaitan erat dengan sejarah dan budaya setempat.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, ada pengguna lain yang berpendapat bahwa pelepasan koi tidak masalah karena dilakukan di situ, bukan di sungai. Situ dianggap seperti waduk buatan yang berfungsi menampung air sekaligus menjadi tempat wisata. Dalam pandangan ini, pelepasan ikan koi lebih mirip dengan memelihara ikan di kolam besar. Ia menegaskan bahwa yang berbahaya adalah jika koi dilepas ke sungai atau kali, karena bisa menyebar tanpa kontrol.
Namun, komentar balasan ini kembali diperdebatkan dimana pengguna pertama menekankan bahwa air dari situ tetap mengalir ke hilir, sehingga anak ikan tetap berpotensi keluar dan menyebar. Perdebatan ini menunjukkan adanya perbedaan pemahaman tentang fungsi situ dan dampak ekologis dari pelepasan ikan non-endemik.
Di sisi lain, ada juga komentar yang bernada positif dan penuh kebanggaan dimana seorang warga asli Majalengka menyampaikan rasa bangganya terhadap kegiatan pelepasan ikan koi yang dilakukan oleh Irfan bersama bos koi, Bapak Hartono, dan Koh Audrey A. Baginya, kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian terhadap daerah, sekaligus menambah daya tarik wisata di Majalengka.
Ragam komentar ini memperlihatkan dua sisi pandangan masyarakat. Di satu sisi, ada kekhawatiran ekologis tentang pelepasan ikan non-endemik yang bisa berdampak pada ekosistem alami. Di sisi lain, ada rasa bangga dan dukungan terhadap kegiatan yang dianggap membawa manfaat sosial dan wisata.
Perbedaan pandangan ini wajar terjadi, karena setiap orang melihat dari sudut yang berbeda yaitu ada yang fokus pada aspek lingkungan, ada pula yang menekankan nilai kebersamaan dan kebanggaan daerah. Diskusi semacam ini justru penting, agar setiap kegiatan yang dilakukan bisa lebih bijak, mempertimbangkan manfaat sekaligus dampak jangka panjang bagi alam dan masyarakat.
Semoga infonya bermanfaat.
Kuningan Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pesan akan di moderasi dulu