Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini

Admin mungkin menerima komisi jika membeli melalui link dibawah ini
Admin mungkin menerima komisi dari link tiktok diatas

Senin, 19 Januari 2026

Usaha jarang dilirik tapi dibutuhkan setiap hari, peluangnya tinggi

Artikel review video youtube kali ini adalah dari channel youtube CapCapung yang diupload pada tanggal 20 Desember 2025 dengan judul "Usaha Jarang Dilirik Tapi Dibutuhkan Setiap Hari, Peluang Sukses Sangat Tinggi". 

Di pesisir Pantai Tanggul Tirto, Bantul, ada seorang petani garam bernama Bapak Purnama, yang akrab dipanggil Capung. Ia menjalani profesi yang mungkin jarang dilirik orang, namun sebenarnya sangat dibutuhkan setiap hari yaitu dari pengolahan garam. Kisahnya ini akan menghadirkan inovasi baru agar garam lokal bisa bersaing dengan kualitas terbaik. 

Baca juga : 

Garam krosok pendukung budidaya perikanan

Pengalaman cuci pakaian dengan garam krosok

Sejak tahun 60-an, kakek dan neneknya sudah menjadi pembuat garam dengan cara tradisional. Teknik lama yang digunakan adalah metode sirat, yaitu memasak air laut berjam-jam hingga menghasilkan garam. Kini, ia melanjutkan usaha itu dengan sentuhan teknologi modern. Ia belajar dari rekannya di Kebumen dan mulai menggunakan sistem Tunnel HDPE serta plastik UV yang menyerupai greenhouse. Dengan cara ini, proses penguapan lebih efisien dan hasil garam lebih bersih.

Pembuatan garam di Bantul memiliki tantangan tersendiri dimana ombak Samudra Hindia yang besar membuat air laut tidak bisa diambil langsung. Sebagai gantinya, ia menggunakan sumur resapan di pinggir pantai. Air kemudian dialirkan ke tandon berjenjang, dari kolam pertama hingga kolam keenam, dengan rotasi setiap dua minggu. Di kolam terakhir, kristalisasi terjadi dan menghasilkan garam kerosok putih bersih.

Yang menarik, garam yang dihasilkan benar-benar organik tanpa bahan kimia tambahan. Panenan pertama menghasilkan garam kualitas nomor satu, sementara sisa panenan yang berwarna coklat tidak dijual. Hal ini menunjukkan komitmenya untuk menjaga mutu produk.

Meski usaha ini dijalankan seorang diri, hasilnya cukup besar. Dari enam tunnel yang dimiliki, satu tunnel bisa menghasilkan 2–3 kuintal garam dalam beberapa kali panen. Garam kerosok produksinya banyak diserap oleh peternak untuk campuran pakan, petani untuk mengatasi jamur, perikanan, hingga pembuat telur asin.

Usaha ini tentunya akan membuka peluang besar bagi daerah pesisir. Garam adalah kebutuhan sehari-hari, baik untuk rumah tangga maupun industri, sehingga permintaan pasar selalu ada.

Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Cuaca menjadi kendala, berbeda dengan Pantura yang lebih panas, Bantul memiliki angin kencang dan sering mendung, sehingga proses penguapan terhambat. Musim hujan pun menjadi tantangan tersendiri ubtuk produksi garam.

Ia berharap pemerintah bisa memberikan dukungan berupa modal, teknologi, dan kebijakan yang berpihak pada petani garam lokal. Dengan begitu, Indonesia sebagai negara maritim tidak perlu lagi bergantung pada impor garam.

Mimpi besarnya adalah membangun pabrik garam sendiri dan menjadikan lokasi usahanya sebagai destinasi wisata edukasi. Ia ingin anak-anak sekolah bisa belajar langsung tentang proses pembuatan garam, sekaligus memahami betapa pentingnya menjaga potensi desa.

Bapak Purnama berpesan agar generasi muda tidak hanya mengejar kemewahan di kota, tetapi juga berani kembali ke desa untuk mengolah potensi yang ada. Menurutnya, menjadi petani garam juga bisa menjadi peluang besar untuk memperkuat ekonomi nasional dan melestarikan budaya. 

Video ini ternyata mendapat banyak respon positif. Komentar-komentar yang muncul bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga doa, semangat, dan harapan agar usaha garam lokal bisa berkembang lebih besar.

Banyak penonton merasa terinspirasi dengan kisah Bapak Purnama. Ada yang menuliskan, “Sing maju Pak usaha ne, inspiratif banget.” Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan dukungan agar usaha garam tetap berjalan dan semakin maju.

Sebagian masyarakat berharap pemerintah ikut turun tangan dengan menuliskan agar ada pelatihan dan permodalan untuk pemuda pesisir Laut Selatan, sehingga potensi yang ada bisa dioptimalkan. Dukungan seperti ini dianggap penting agar usaha garam tidak hanya dijalankan sendiri, tetapi bisa melibatkan lebih banyak orang.

Ada juga komentar yang mengajak untuk berpikir lebih besar. Usaha garam sebaiknya dikembangkan di lahan yang luas, melibatkan warga sekitar, dan memanfaatkan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR). Dengan cara itu, usaha garam bisa tumbuh menjadi sumber ekonomi baru di daerah pesisir.

Tak sedikit penonton yang menuliskan doa penuh kehangatan. “Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa. Terima kasih dan salam sukses, Rizki berlimpah ruah, barokallah,” begitu bunyi salah satu komentar. Doa-doa ini menunjukkan rasa syukur dan apresiasi atas perjuangan seorang petani garam yang tetap teguh menjalani profesinya.

Jika dirangkai, komentar-komentar tersebut menjadi sebuah cerita tersendiri. Ada semangat, ada harapan, ada ide, dan ada doa. Semua itu menunjukkan bahwa perjuangan Bapak Purnama tidak berdiri sendiri. Masyarakat ikut mendukung, pemerintah diharapkan hadir, dan komunitas siap bergandeng tangan.

Kisah ini membuktikan bahwa usaha yang jarang dilirik ini bisa menjadi sumber inspirasi. Dengan tekad, kerja keras, dan dukungan banyak pihak, usaha garam lokal bukan hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga bisa menjadi kebanggaan daerah.

Bagi siapa pun yang ingin belajar atau berdiskusi, pintu rumahnya selalu terbuka di Pantai Tanggul Tirto, Bantul. Kisahnya ini adalah bukti bahwa usaha pengolahan garam yang jarang dilirik bisa menjadi sumber kesuksesan, asalkan dijalani dengan tekad dan niat yang kuat. 

Semoga infonya bermanfaat. 



Kuningan Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan akan di moderasi dulu

Blogger Kuningan

Blogger Kuningan